Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Waktu sedang mengemudi atau commuting on train, aku sering berkhayal mengobrol dengan orang-orang yang kukenal atau malah yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Kadang aku berdiskusi dengan mereka berjam-jam, kadang berbantah-bantahan hanya beberapa menit kemudian salah satu mengalah dan diam.

Kali ini aku membuat satu kategori baru untuk tulisanku, diambil dari obrolan imajiner dengan orang-orang atau makhluk itu yang kadang membicarakan hal penting, tapi lebih sering hal-hal bodoh yang tidak berfaedah. Semua tulisan dalam topik ini adalah fiksi dan hanya terjadi di pikiranku, kecuali ku-state sebaliknya.

Tulisan ini bukan untuk kalian yang terlalu sensitif dengan hal-hal duniawi. Untuk yang bisa bersantai dengan bacaan fiksi, selamat menikmati.
« Klik untuk terus membaca

Immortality is a Curse

Immortality is a Curse

Bagian terbaik dari “work from home” itu adalah nguping.

Nggak ada orang yang bakal curiga kalau kau duduk – sibuk dengan urusanmu sendiri – di depan laptop dan earphone nempel di kuping. Nggak ada juga yang curiga kalau earphone itu nggak mengeluarkan suara apa-apa. Kadang kalau lagi kerja, fungsi earphone itu bukan untuk menghalangi suara dari luar, tapi biar orang-orang rese nggak bolak-balik ngajak ngomong.

Kembali ke topik.

“Eh kalo lo dikasih superpower, lo mau milih apa?”

“Immortality lah.”

Woah, easy young man. Let me tell you something.

Immortality atau keabadian itu bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. Kecuali mereka memang nggak pernah nonton film-film dengan tema ini, kayaknya mereka belum memikirkan masalah apa yang muncul dengan keabadian.
« Klik untuk terus membaca

Honestly, This is Why I Keep Blogging

Honestly, This is Why I Keep Blogging

Aku nggak bisa menghasilkan uang dari blog (mungkin nggak dalam waktu dekat).

Salah satu kesalahan terbesarku membuat blog adalah berusaha untuk menjadikan blog sebagai sumber uang. Sebenarnya “menjual” tulisan di blog itu bukan omong kosong. Ribuan orang di seluruh dunia sudah berhasil hidup dari menulis. Di Indonesia ada Arief Muhammad (poconggg), Bena Kribo, Raditya Dika dan Stephany Josephine (theFreakyTeppy) misalnya. Mereka sukses dengan blognya masing-masing sebelum melanjutkan ke Youtube.

Tapi nggak semua orang bisa segigih mereka. Aku nggak mau bilang mereka beruntung, karena buatku keberuntungan itu nggak datang dari langit tapi dibuat sendiri.

Luck = Hard Work + Perfect Timing

Dan mengatakan mereka beruntung itu artinya merendahkan dan meniadakan perjuangan mereka untuk mikir mau nulis apa, mikir gimana cara menyampaikannya, dan gimana cara mempertahankan konsistensi menulis bertahun-tahun.
« Klik untuk terus membaca

Freelance?

Freelance?

Kemaren pas makan gaji buta aku iseng-iseng buka blog seorang kolega yang resign setelah melahirkan anak kedua. Sempat penasaran juga, gimana ya seorang insinyur – sebutan insinyur kuanggap lebih baik daripada teknisi – yang biasanya sibuk, sekarang harus jadi ibu rumah tangga yang baik.

Ngurusin anak nggak kalah sibuk daripada kerja di kantor. Malah seringkali kerjaan di rumah justru lebih melelahkan. Di kantor ada jam makan siang yang etikanya nggak boleh diganggu dengan kerjaan. Di rumah nggak ada istilah istirahat makan siang. Pas lagi makan pun kalo anaknya pup ya harus dibersihkan, kemudian lupa cuci tangan, kemudian lanjut makan lagi.
« Klik untuk terus membaca

Takut

Takut

Banyak kepercayaan yang meyakini Adam tidak diciptakan sendirian. Ketika Adam dibentuk, kulit tangan Tuhan yang menyentuh debu tanah membuka gerbang gaib yang tidak akan pernah bisa tertutup kecuali bumi ciptaan-Nya dihancurkan.

Makhluk-makhluk tidak kasat mata pun menggunakan gerbang itu untuk berhubungan dengan dunia “tengah” yang dihuni oleh semua ciptaan Tuhan yang berwujud. Sementara makhluk itu adalah zat yang abstrak, mereka bisa membentuk dirinya sendiri menyerupai apapun yang mereka inginkan.

Adapun Lucifer dibuang dari surga memilih wujud ular berkaki delapan – sebelum akhirnya dikutuk berjalan selamanya dengan perutnya karena telah membawa manusia ke dalam dosa – diberikan kemuliaan untuk menjadi penguasa alam gaib, mengatur keluar dan masuknya makhluk-makhluk penghuni alam “bawah” itu.
« Klik untuk terus membaca

Bumi Segi Delapan

Bumi Segi Delapan

… tujuh, delapan, sembilan, se –

“Hot cappuccino?”

“Lama kali kau.”

“Maaf kak, barista kita yang satu lagi sakit.” Kata seorang pramusaji perempuan sambil menunduk dan meletakkan segelas kopi dan sepiring kentang goreng di mejaku. “Ini compliment dari dapur.”

Aku tidak mempedulikannya.

“Kau tau torrent air?” Tanyaku ke Duran.

Perempuan berkemeja hitam dengan celemek kulit kebesaran itu sudah pergi entah kemana.

“Apa urusannya sama torrent air?” Dia bertanya balik.

“Kebiasaan kau kalau ditanya malah nanya balik.” Jawabku. “Kotoran di torrent air itu mengendap di bawah dan nggak akan keluar kalau air di dalamnya masih penuh.”

“Terus?”

“Kalo tadi sampai hitungan sepuluh kopi ini belum muncul, siaplah dia kumaki.
« Klik untuk terus membaca

Menolak Pindah

Menolak Pindah

Untungnya kita nggak hidup di negara yang menganggap orang dewasa yang masih tinggal di rumah orangtua itu aneh. Kawanku tinggal bersebelahan dengan mertuanya, dan kawan istriku bahkan tinggal serumah dengan orangtuanya.

Aku dan istri sama-sama anak sulung yang nggak “betah” tinggal berdekatan dengan keluarga, termasuk orangtua. Bukan karena kita nggak nyaman, lagipula siapa yang nggak suka kalau bisa setiap minggu ketemu orangtuanya? Macam orang-orang yang kerja di Jakarta dan orangtuanya di Bandung misalnya. Cuma dia nggak bisa merasakan sensasi pulang ke kampung yang jauh. Kalau urusan lama, Jakarta – Bandung pas lebaran pun bisa 5 jam, jadi nggak terlalu beda lah dengan orang yang kampungnya di Kabanjahe.
« Klik untuk terus membaca

Men VS Boys

Men VS Boys

  1. Men create their own style. Boys are sheep and follow the flock.
  2. Men want women. Boys need women.
  3. Men stand up for themselves. Boys will fall over in the wind.
  4. Men test new boundaries. Boys stay far from the edge.
  5. Men keep their body in shape. Boys use it as a trash can.
  6. Men are curious. Boys know it all.
  7. Men stand firm in adversity. Boys flinch at the slightest sound.
  8. Men care about the truth. Boys care about being right.
  9. Men support their claim with evidence. Boys support their claim with opinion.

« Klik untuk terus membaca
The Country of Superstition

The Country of Superstition

Di negara ini semuanya dihubungkan dengan “reaksi” Tuhan mulai dari daun gugur sampai gempa berpotensi tsunami. Yang lebih parah, di negara ini kepala daerahnya menyerahkan urusan banjir ke tangan Tuhan. Dan alih-alih menyelesaikan masalah penyempitan sungai dan sampah yang menumpuk, si kepala daerah itu justru menyuruh masyarakatnya berdoa supaya Tuhan membuat hujan reda dan menghentikan banjir.

Gempa besar dianggap sebagai cara Tuhan menunjukkan kemarahannya karena fenomena ini dan itu. Badai dianggap sebagai pertanda Tuhan akan melenyapkan orang-orang yang lebih mengutamakan logika dan ilmu pengetahuan, dan tsunami dibuat untuk melenyapkan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan.

Bumi ini sudah tua dan penghuninya sudah terlalu banyak.
« Klik untuk terus membaca