El Macho Man

Macho, mantan copet?

Entah udah berapa banyak laki-laki zaman sekarang yang kehilangan jati diri. Yang paling parah, ada yang nggak bisa memilih mau jadi laki-laki atau jadi perempuan. Mau jadi perempuan, tapi disuruh operasi ganti kelamin nggak mau. Alasannya mahal, takut, galau. Ngomongnya laki-laki tapi nggak menunjukkan sifat seorang laki-laki.

Yang paling sederhana, dari cara berpakaian. Laki-laki hakikatnya berpakaian lebih “sederhana” dari perempuan. Nggak banyak riasan, nggak banyak asesoris, dan pilihan warnanya relatif lebih kalem daripada perempuan. Nyatanya, nggak perlu dijelaskan, lihat aja sendiri. Yang paling bikin gregetan kalau lihat laki-laki pakai celana “boker” yang selangkangannya turun sampai setengah paha. Ini dosanya lebih besar daripada laki-laki yang pinggang celananya turun sampai kelihatan celana dalamnya.

LANJUT ?

Shit Happens, Deal With It

Shit happens in different scales.

Tahun 2016 awal aku sempat ikut Forex trading. Karena aku nggak punya latar belakang Forex, semua transaksi diambil alih kawanku yang kebetulan trader berpengalaman, setidaknya menurut pengakuannya.

Beberapa bulan pertama, kurva transaksinya masih sehat. Hasil end of day nya masih cukup menguntungkan, biarpunĀ dalam satu hari selaluĀ ada naik-turun untung-rugi beberapa kali.

LANJUT ?

Make It Until You Made It

Okay, another thing I disapprove is on “fake it ’til you make it.”

Meniru memang cara paling gampang untuk memulai sesuatu. Kalau kau punya ide kreatif tapi masih bingung mau memulai dari mana, cari aja role model dengan ide serupa yang sudah terbukti sukses, kemudian tiru dan modifikasi sesuai gayamu.

Punya ide jualan kebab, tiru Kebab Baba Rafi. Mau sukses jualan jilbab, tiru gaya-gaya jilbab di koleksi Zoya. Mau punya startup, banyak contoh bahkan cara-cara mendirikannya di google. Mau sukses jadi artis, tiru orang-orang kurang kerjaan yang suka cari sensasi. Fake it ’til you make it terbukti membantu aspiring apapun untuk mengeksekusi ide-idenya kalau mereka nggak tahu harus mulai darimana.

LANJUT ?

Another Secret of Happiness

No bullshit! Only one question. What makes you happy?

Yang bisa membuatku bahagia, mungkin satu-satunya yang bisa membuatku bahagia adalah perubahan. Aku gampang bosan. Buatku, stagnan itu hanya masuk akal kalau aku sudah mati.

Aku nggak bahagia di kantorku. Kenapa? Karena nggak ada perubahan dan perkembangan signifikan selama 6 tahun aku bekerja. Gaji naik, pekerjaan sedikit lebih banyak dari sebelumnya, tapi nggak ada tantangan yang bisa membuat aku semangat untuk belajar.

LANJUT ?

Passion?

What drives you? What is your dream? What so special about it?

Are you willing to struggle for it? How far will you go?

Ngomongin tentang passion nggak segampang ngomongin cita-cita. Ini karena cita-cita memang jauh lebih sederhana dari passion. Cita-cita bisa berubah, dari presiden, ke astronot, ke dokter, ke tentara, dan berakhir jadi karyawan swasta.

Passion juga nggak sesederhana hobby. Hobby bisa sampai ke titik jenuh, bosan dan berganti. Hobby dipengaruhi banyak hal, mulai dari umur, waktu, biaya, dan orang-orang yang kita temui di komunitas penggiat hobby yang sama.

LANJUT ?

Original < Copy

Go to my Youtube channel, then go to trending page. Now go to any of your favorite Youtuber’s channel, then back to trending page.

Bisa lihat dimana masalahnya? Hampir setiap hari, 9 dari 10 video di trending page adalah konten dari “pengepul.” Channel Youtube yang merekam berita, talk show, sitkom, atau tayangan TV lain, kemudian di upload ulang. Satu-satunya effort mereka hanya untuk mendaftarkan akun Youtube baru, waktu untuk merekam, dan kuota internet. Malah sebagian konten adalah hasil re-upload dari channel lain.

LANJUT ?

Kenapa Benci?

“Nggak tau kenapa, tapi aku benci sekali sama …”

Ini contoh pembohongan publik, karena selalu ada alasan untuk membenci. Bisa jadi lebih banyak daripada alasan ke Hoka-Hoka Bento. Ada satu tulisanku di Quora, yang menjawab kenapa kita bisa membenci seseorang tanpa alasan.

Mengatakan kebencian bisa muncul tanpa alasan itu sama aja dengan mengatakan asap bisa muncul tanpa ada api. Entah sadar atau nggak, alasan untuk membenci itu bisa direkayasa, mulai yang realistis karena merasa nggak puas, alasan yang agak mengambang, bahkan unreal.

LANJUT ?

Millions for Books I Don’t Read

Ini bukan sombong, justru mau mengeluh. Aku punya hampir seratus buku, atau mungkin lebih. Dan setengahnya bahkan belum dibuka dari plastiknya sejak dibeli.

Mau dibuang, dijual atau didonasikan masih sayang. Selain itu, sejak kecil bukuku tidak pernah berkurang selain karena dipinjam dan nggak dikembalikan, atau hancur karena lapuk. Bukan cuma buku fisik, aku juga suka belanja buku-buku bahasa Inggris – salah satunya Hitler’s Mein Kampf – versi digital. Buku karangan Hitler itu malah ku cetak supaya kelihatan keren dipajang di lemari buku nanti (entah kapan).

LANJUT ?

I’m Back, WTF Happen?

(Edit: Selasa, 21 Februari 2017)

Hibernasi enam bulan harusnya sudah cukup untuk kembali ke blog ini, melanjutkan inkonsistensi blogging dengan konsisten.

Selama enam bulan menghilang, aku mulai bikin video di youtube, #markombur. Baru beberapa episode, termasuk satu video “kontroversial” tentang PILKADA, tapi sudah mulai membosankan.

Rupanya membuat video serius nggak segampang membuat vlog, atau reaction video, atau video pas lagi main game. Menyelesaikan satu seri video tanpa naskah itu ternyata melelahkan. Capek karena harus ngulang-ngulang bagian yang salah, capek karena harus mikir on the spot. Kalau harus buat naskah, malasnya yang muncul duluan. Kadang karena topiknya terlalu serius, malah garing, atau kayak menggurui. Agak susah memang kalau mau memulai sesuatu yang nggak sesuai dengan latar belakang.

LANJUT ?