Nama Role Model itu, Hotman Paris

Nama Role Model itu, Hotman Paris

Jujur, aku muak dengan motivator dan tokoh-tokoh inspiratif. Alasannya sederhana, kehidupan yang mereka tunjukkan ke publik itu kelihatan terlalu “sempurna.” Terlepas bagaimana cara mereka berusaha meyakinkan orang kalau mereka berasal dari keluarga miskin, bagaimana mereka bersusah payah – banting tulang – untuk sampai ke posisi mereka sekarang, image mereka terasa “asing” dan too good to be true.

Terbukti seorang Mario Teguh ternyata punya masa lalu yang akhirnya menjatuhkan dia. Dimana Mario Teguh sekarang, paling cuma keluarga, orang terdekat dan orang media yang tahu.

Kemudian muncul seorang Hotman Paris Hutapea. Dia sebenarnya bukan sosok baru. Banyak orang yang kenal Hotman dan tahu seberapa kayanya dia.
« Klik untuk terus membaca

Manusia-manusia bejad

Manusia-manusia bejad

Menari di atas penderitaan orang lain mungkin kedengarannya terlalu klise. Tapi menjarah di atas kemalangan orang lain, ini kejadiannya hampir di setiap bencana.

Gempa Lombok beberapa minggu kemarin cukup parah dari segi kerusakan material dan moral. Ini bukan cerita tentang siapa yang sudah kesana untuk membantu tapi cerita tentang manusia-manusia bejad yang memanfaatkan momen “rusuh” itu untuk berbuat jahat.

Hari ini di grup gaming, ada seorang member yang cerita konsolnya hilang waktu gempa. Konsol itu bukan disimpan di rumah, tapi di kantor yang pasti punya CCTV. Sialnya, waktu kejadian CCTV dan segala perangkat storagenya ikut tertimbun puing. Harga konsol memang nggak seberapa dibandingkan nyawa pemiliknya, tapi kalau manusia-manusia bejad itu berani masuk ke kompleks kantor, apalagi cuma sekedar rumah penduduk.
« Klik untuk terus membaca

Bolak Balik Passion

Bolak Balik Passion

Aku pernah menulis tentang PASSION (ugh!). Pertanyaannya waktu itu adalah “hal apa yang sudah bosan kamu dengarkan?”

Sebenarnya nggak ada orang yang bosan mendengarkan obrolan tentang passion. Jutaan manusia sukses di bumi ini bergerak dari passion tentang sesuatu yang kemudian mereka “materialisasikan” menjadi satu produk atau jasa yang bisa membantu manusia lain dan rela untuk membayar harga.

Go-Jek, bergerak dari kesulitan Nadiem Makarim menemukan layanan transportasi murah, cepat, dan anti macet untuk keliling Jakarta. Waktu itu ada Ojek Pangkalan, tapi untuk kalian yang belum pernah pakai jasa ojek pangkalan, urusan negosiasi harga itu alot. Dan calon penumpang harus jalan dari rumah mereka ke pangkalan ojek untuk memakai jasa mereka.
« Klik untuk terus membaca

New Family Crest? Maybe

New Family Crest? Maybe

I ain’t a graphic designer. I don’t even know how to use Wacom or any drawing tablet. But I like to create a logo for my business, my social media profile, for my brother’s cafe, my wife’s online store and here, I created a new one, might be just a youtube logo, or even more – a family crest.

Why deer?

Well, I have a few of them ON my right leg. Deer is my first tattoo(s). I like deer for their elegance. I like deer because no deer roams alone, they always go in a pack.

For some people, deer maybe a symbol of pride but for me they symbolize sensitivity, gentleness and family.
« Klik untuk terus membaca

True Colors

True Colors

“Ky, menurutmu sifat asli orang itu muncul pas dia lagi di atas atau lagi di bawah?”

“Di atas atau di bawah sama aja, yang penting enak.”

“@#*$!!”

Oke, menurutku sifat asli orang itu muncul kalau zona nyamannya berubah. Aku nggak bilang berubah ke atas atau ke bawah, karena ada orang yang kelihatan aslinya pas dia lagi dapat masalah berat, nggak ada yang bisa membantu sementara situasi menuntut dia membuat solusi secepatnya.

Tapi ada juga yang sifat aslinya muncul pas lagi senang.

Intinya semua orang punya topeng, either topeng itu tebal atau agak semi-semi transparan. Karena menurutku, menunjukkan 100% sifat asli itu serba salah.
« Klik untuk terus membaca

Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Waktu nyetir atau commuting on train, aku sering berkhayal ngobrol dengan seseorang yang kukenal atau malah yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Kadang aku berdiskusi dengan mereka berjam-jam, kadang berbantah-bantahan hanya beberapa menit kemudian salah satu mengalah dan diam.

Kali ini aku membuat satu kategori baru untuk tulisanku, diambil dari obrolan imajiner dengan orang-orang atau makhluk itu yang kadang membicarakan hal penting, tapi lebih sering hal-hal bodoh yang tidak berfaedah. Semua tulisan dalam topik ini adalah fiksi dan hanya terjadi di pikiranku, kecuali ku-state sebaliknya.

Tulisan ini bukan untuk kalian yang terlalu sensitif dengan hal-hal duniawi. Untuk yang bisa bersantai dengan bacaan fiksi, selamat menikmati.
« Klik untuk terus membaca

Immortality is a Curse

Immortality is a Curse

Bagian terbaik dari “work from home” itu adalah nguping.

Nggak ada orang yang bakal curiga kalau kau duduk – sibuk dengan urusanmu sendiri – di depan laptop dan earphone nempel di kuping. Nggak ada juga yang curiga kalau earphone itu nggak mengeluarkan suara apa-apa. Kadang kalau lagi kerja, fungsi earphone itu bukan untuk menghalangi suara dari luar, tapi biar orang-orang rese nggak bolak-balik ngajak ngomong.

Kembali ke topik.

“Eh kalo lo dikasih superpower, lo mau milih apa?”

“Immortality lah.”

Woah, easy young man. Let me tell you something.

Immortality atau keabadian itu bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. Kecuali mereka memang nggak pernah nonton film-film dengan tema ini, kayaknya mereka belum memikirkan masalah apa yang muncul dengan keabadian.
« Klik untuk terus membaca

Honestly, This is Why I Keep Blogging

Honestly, This is Why I Keep Blogging

Aku nggak bisa menghasilkan uang dari blog (mungkin nggak dalam waktu dekat).

Salah satu kesalahan terbesarku membuat blog adalah berusaha untuk menjadikan blog sebagai sumber uang. Sebenarnya “menjual” tulisan di blog itu bukan omong kosong. Ribuan orang di seluruh dunia sudah berhasil hidup dari menulis. Di Indonesia ada Arief Muhammad (poconggg), Bena Kribo, Raditya Dika dan Stephany Josephine (theFreakyTeppy) misalnya. Mereka sukses dengan blognya masing-masing sebelum melanjutkan ke Youtube.

Tapi nggak semua orang bisa segigih mereka. Aku nggak mau bilang mereka beruntung, karena buatku keberuntungan itu nggak datang dari langit tapi dibuat sendiri.

Luck = Hard Work + Perfect Timing

Dan mengatakan mereka beruntung itu artinya merendahkan dan meniadakan perjuangan mereka untuk mikir mau nulis apa, mikir gimana cara menyampaikannya, dan gimana cara mempertahankan konsistensi menulis bertahun-tahun.
« Klik untuk terus membaca

Freelance?

Freelance?

Kemaren pas makan gaji buta aku iseng-iseng buka blog seorang kolega yang resign setelah melahirkan anak kedua. Sempat penasaran juga, gimana ya seorang insinyur – sebutan insinyur kuanggap lebih baik daripada teknisi – yang biasanya sibuk, sekarang harus jadi ibu rumah tangga yang baik.

Ngurusin anak nggak kalah sibuk daripada kerja di kantor. Malah seringkali kerjaan di rumah justru lebih melelahkan. Di kantor ada jam makan siang yang etikanya nggak boleh diganggu dengan kerjaan. Di rumah nggak ada istilah istirahat makan siang. Pas lagi makan pun kalo anaknya pup ya harus dibersihkan, kemudian lupa cuci tangan, kemudian lanjut makan lagi.
« Klik untuk terus membaca