Make It Until You Made It

Okay, another thing I disapprove is on “fake it ’til you make it.”

Meniru memang cara paling gampang untuk memulai sesuatu. Kalau kau punya ide kreatif tapi masih bingung mau memulai dari mana, cari aja role model dengan ide serupa yang sudah terbukti sukses, kemudian tiru dan modifikasi sesuai gayamu.

Punya ide jualan kebab, tiru Kebab Baba Rafi. Mau sukses jualan jilbab, tiru gaya-gaya jilbab di koleksi Zoya. Mau punya startup, banyak contoh bahkan cara-cara mendirikannya di google. Mau sukses jadi artis, tiru orang-orang kurang kerjaan yang suka cari sensasi. Fake it ’til you make it terbukti membantu aspiring apapun untuk mengeksekusi ide-idenya kalau mereka nggak tahu harus mulai darimana.

Cuma ada tiga masalah yang sering dilupakan, bahkan pura-pura nggak disadari dalam konsep “fake it ’til you make it” ini.

Yang pertama, biasanya karya tiruan jarang lebih sukses dari karya aslinya. Beberapa kasus mungkin bisa, tapi dengan syarat targetnya harus dibedakan dan effort/modal yang dikorbankan harus lebih besar dari karya aslinya. Sebagai contoh, GoJek VS Grab Bike. Nggak perlu dijelaskan mana yang duluan, karena informasinya sudah banyak di Internet.

Yang kedua, masalah originality. Nggak ada yang salah dengan meniru, asal nggak 100%. Banyak kasus “meniru” yang akhirnya berakhir di pengadilan karena kena pelanggaran hak cipta. Ide mungkin tidak bisa dipatenkan, tapi hasil dan proses bisa. Masalahnya, meniru plek-plekan lebih gampang dari ATM – Amati Tiru Modifikasi. Kita lebih suka meniru dari sesuatu yang sudah terbukti sukses, daripada menambahkan “personal style” ke satu ide dan terancam kurang diminati.

Yang ketiga, false expectancy. You think you made it, but you are not! Menurutmu karyamu sukses, tapi sebenarnya nggak. Itu bukan karyamu, karena hasil dan prosesnya nggak unik. Nggak ada pembeda antara karya tiruan dan aslinya. Ini sama aja dengan sukses berjualan barang KW. Mungkin orang menyukai karyamu karena lebih murah walaupun hasilnya nggak sebagus aslinya, nggak ada yang tahu.

Steal the idea, and make it ’til you made it.

Aku suka buku ini.

Austin Kleon mendorong orang untuk “mencuri” seperti seorang artis. Artis punya gaya sendiri. Sepuluh pelukis dengan guru dan objek yang sama akan menghasilkan 10 lukisan dengan gaya yang berbeda.

Aku pernah “diajari” seorang teman bagaimana cara membuat video viral di youtube, dan dengan santai kutolak. Alasannya, karena itu bukan gayaku.

Adikku juga pernah menyarankan untuk membuat video yang lebih menarik dengan musik, efek dan lelucon, tapi kutolak karena itu bukan gayaku.

Tujuanku membuat video youtube bukan untuk jadi viral dan jadi bahan omongan di media sosial. Tujuanku membuat video adalah lanjutan dari blog berbentuk tulisan. Isinya kurang lebih sama, tapi menurutku, dengan video, aku bisa lebih ekspresif menyampaikan pikiranku dibandingkan dengan menulis.

Mengikuti konsep “make it ’til you made it” itu, aku mungkin mengambil ide dari youtuber lain. Aku mengambil kata-kata yang kuanggap cocok dan kusampaikan dengan gayaku sendiri. Aku nggak akan meniru cara mereka membuat video atau cara mereka berbicara atau cara mereka menyampaikan pesan. Aku akan membuat gayaku sendiri, walaupun dengan konsekuensi videoku nggak viral.

Make it ’til I made it mungkin perlu waktu lebih lama daripada meniru, tapi paling tidak aku punya kesempatan untuk belajar menemukan cara yang paling tepat untuk sampai ke titik dimana aku bisa bilang “I made it. I made it my way!”