Aku Nggak Paham Modern Art

Malam ini di TLC ada acara World’s Best Restaurant.

Salah satunya menyajikan steak dengan garnish cipratan saus. Nama untuk mereka – contemporary modern art, menurutku nama yang cocok, steak dengan saus nyiprat.

Aku pernah beberapa kali membaca tentang modern art, dan aku masih belum puas. Aku masih belum dapat sensenya, kenapa orang bisa suka modern art.

Well, mungkin di rumahku nanti ada satu atau dua lukisan ala modern art, tapi bisa kupastikan itu ada di dalam rumahku hanya karena aku suka kombinasi warnanya. Aku nggak akan menghabiskan 90 juta dolar untuk lukisan 3 warna kayak ini.

Nama lukisan itu “Orange, Red, Yellow”, karya Mark Rothko yang terjual hampir 90 juta dolar di tahun 2012. Aku bisa beli 1500 rumah layak huni di Jakarta dengan uang sebanyak itu.

Dari semua test (online) yang pernah kucoba untuk menentukan dominasi otak, aku left-brain-dominant. Artinya logika dan keteraturan mengalahkan perasaan. Nah kalau lukisan itu, kayaknya hanya orang-orang berotak kanan yang bisa menghargai nilainya, apalagi memahami arti di balik karya itu.

Seandainya tiba-tiba lukisan itu hilang dan muncul di rumahku, kemungkinan besar nggak akan kupajang di ruang tamu.

Now, what this will do for you?

Memahami, mencintai, dan menekuni modern art, untuk sebagian besar orang masih terlihat aneh. Wright bersaudara pun dianggap gila waktu mereka mau menciptakan pesawat terbang.

Millennials terkenal dengan “kegilaannya”, tapi ketika kegilaan itu mulai menghasilkan rupiah, semua orang ikut-ikutan jadi gila atau minimal pura-pura gila supaya bisa menjadi bagian dari proses modernisasi itu.

Karya apapun pasti punya pasar. Entah se-absurd dan se-gila apapun kedengarannya, seseorang akan membayar harga yang sangat mahal untuk hal yang benar-benar memikat “rasa”nya.

Keep creative.

 

referensi:

Orange, Red, Yellow, 1961 by Mark Rothko