Kamu Agamanya Apa?

Pertanyaan ini cuma pantas dipakai untuk KTP dan formulir resmi. Selain itu, pertanyaan ini konyol.

Masa depan nggak ditentukan dengan agamamu. Minimal selama kau masih hidup. Ini hanya urusan keteraturan, dan ritual untuk menyembah Tuhan masing-masing selama masih hidup.

Masa depan juga nggak peduli latar belakangmu seperti apa.

Masa depan nggak peduli kau lahir cacat atau bahkan nggak punya tangan dan kaki. Masa depan nggak peduli kau lahir di keluarga yang bagaimana, orangtuamu siapa, makananmu apa, dan agamamu apa.

Masa depan itu buta.

Masa depan cuma peduli dengan waktu. Semua orang dapat waktu yang sama, 24 jam sehari, kecuali kau kebetulan tinggal di luar angkasa, bisa jadi lebih lambat atau lebih singkat.

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan ngomong, “jangan mimpi lah, Kristen nggak mungkin jadi Presiden di negara ini.”

Di satu sisi, aku setuju. Karena kondisinya sekarang, untuk jadi pemimpin daerah pun sulit kalau agamanya beda. Bahkan yang agamanya sama pun bisa ditentang. Tapi kembali lagi, fokus ke kata “sekarang”. Sekarang, kemarin, besok, tahun depan, itu semua tentang waktu.

Sekarang mungkin belum bisa, tapi sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun lagi, siapa yang bisa tahu? Barrack Obama jadi presiden kulit hitam pertama di negara yang pernah perang saudara hanya karena mengurusi perbedaan warna kulit.

Perbedaan apapun bukan jadi penghalang untuk memulai sesuatu yang baru atau melanjutkan pekerjaan. Kalau tanpa perbedaan, apa menariknya? Kalau semua orang suka KFC, nggak mungkin ada McDonald. Kalau semua orang sepakat iPhone yang paling bagus, nggak mungkin perusahaan China macam Xiaomi bisa sebesar sekarang.

Di Indonesia bukan tidak mungkin, “kerusuhan” tentang agama yang sekarang terjadi ini, hanya satu fase untuk menuju kemerdekaan yang lebih absolut lagi, dalam cita-cita, mimpi, dan masa depan warga negara Indonesia.