Life Wasted

Kalau tiba-tiba ada orang asing muncul di depanku, dan ngomong, “hidupmu sia-sia,” ada fifty-fifty chance orang itu gila, atau orang itu benar.

Jujur, beberapa tahun belakangan ini aku merasa nggak bisa menghasilkan apa-apa. Ya, tanpa mengurangi rasa syukur, aku bisa lanjutin kuliah dengan biaya sendiri, nikah dan punya rumah hasil patungan sama istri, dan masih bisa sedikit membantu orangtua dan adik-adik urusan dana ini dan itu.

Tapi untuk urusan karir, aku merasa jalan di tempat. Well, ada beberapa bisnis yang pernah kucoba dan gagal, tapi aku nggak merasa ada pengalaman berharga yang bisa kupelajari dari kejadian itu, justru aku makin nggak berani mencoba hal baru karena takut gagal.

Istriku selalu marah kalau kubilang aku manusia gagal, tapi dia sepakat kalau aku manusia labil yang nggak konsisten. Untungnya aku bisa berkomitmen untuk menikah, itupun karena ada potensi pertumpahan darah kalau aku nggak segera menikahi dia tahun lalu.

Jadi kalau tiba-tiba ada orang yang muncul dan bilang, “Ricky sahabatku, hidupmu sia-sia,” aku mungkin pulang, mandi, masuk kamar, dan berdoa seharian, minta petunjuk, minta wahyu supaya setelah hari itu aku bisa membuat hidupku nggak terlalu sia-sia lagi. Karena Raffi Ahmad aja bisa punya nilai di acara-acara lawakan nggak berbobot itu.

Di beberapa artikel yang pernah kubaca, tanda-tanda ini muncul kalau hidup seseorang mulai mengarah kesana:

  • Sebagian besar aktifitas rutin mulai membosankan
  • Memulai hal baru nggak terasa menyenangkan, justru menakutkan
  • Muncul pikiran, “kalau orang lain nggak bisa – apalagi aku.”
  • Sering bingung hari ini mau ngapain dan akhirnya bengong atau browsing hal-hal nggak berguna.
  • Muncul pikiran, “kenapa harus aku yang mengerjakan kalau ada orang lain.”
  • Setiap hari merasa nggak punya waktu padahal sebenarnya nggak mengerjakan apa-apa.

Nah, kalau tanda-tanda itu sering muncul – which is often in my case – udah saatnya kita berubah. Aku kadang takut, karena sering merasa “nggak berguna”, muncul masalah baru, suicidal tendencies. Udah bukan rahasia kalau orang-orang yang berakhir bunuh diri itu karena mereka merasa ada yang salah dengan kehidupannya. Salah satunya mungkin karena mereka nggak merasa bermanfaat di lingkungan mereka.

Aku bukan orang yang siap mengambil resiko. Contoh yang paling sederhana, aku nggak mau resign padahal kondisi pekerjaanku sekarang sudah nggak nyaman lagi. Agak paradoksikal memang, karena secara teknis aku ada di zona nyaman (dengan gaji, jam kerja, pekerjaan, dan lain-lain), tapi justru aku nggak merasa nyaman karena merasa nggak berkembang.

Orang lain yang lebih berani, mereka pasti sudah keluar untuk mencari sesuatu yang baru. Tapi kalau kau mirip dengan kasusku, saranku yang pertama, berusaha sedikit lebih santai. Biarkan dulu semuanya mengalir, karena ibarat air sungai yang tiba-tiba dilempar batu besar, riak dan percikannya pasti lompat kemana-mana.

Yang kedua, don’t overthink. Karena tantangan paling besar itu justru muncul dari diri sendiri. Orang lain sebenarnya nggak peduli, karena toh kita belum siapa-siapa. Tapi ego dan keinginan untuk jadi siapa-siapa itu yang membuat kita nggak santai, dan lama-lama berhenti mencoba.

Kalau memang tujuan kita untuk mengubah arah aliran sungai itu, masukkan batunya pelan-pelan, jangan dilempar. Sedikit demi sedikit, batu-batu kecil itu bisa jadi bendungan. Intinya dengan berubah pelan-pelan. Mempelajari ilmu-ilmu lain yang kira-kira berhubungan dengan “kehidupan” baru yang menurutmu menarik.

Aku suka menulis. Aku udah mencoba banyak cara untuk bisa menikmati menulis, tapi tetap aja susah kalau dipaksakan. Cara satu-satunya dengan memperbanyak menulis, biarpun tulisan di blog, atau cerita-cerita pendek. Nanti kalau sudah mulai nyaman, pasti bisa lebih mudah.