Pindahan : Belajar Art of Minimalism

Setelah hampir 8 tahun tinggal di Jakarta, aku dan istri sepakat untuk pindah ke “pinggir”. Dengan modal nekat – tapi nggak boleh minjam sama saudara – kami coba cari rumah di daerah yang harga dan ukurannya masih manusiawi.

Lumayan lama juga sampai akhirnya kami ketemu rumah yang cocok di daerah Depok.

“Kenapa Depok? Kenapa nggak Tangsel aja?” Kata kawan-kawan yang kebetulan rumahnya di Tangerang.

Alasannya karena dengan harga yang sama, kami bisa dapat rumah yang lebih besar di Depok. Dan kondisi alam di depok masih lebih nyaman dibandingkan Tangsel yang makin hari makin mirip Jakarta. Mungkin namanya bisa diganti jadi Jakarta 2.0, dengan semua bangunan apartment, perumahan elit, kompleks kantor dan mall-mall besarnya.

Anyway, kami udah booking jasa pindahan, dan karena kami malas mutar-mutar dan nyari nomor telepon di tiang listrik (dan stiker di pintu kosan) akhirnya ketemu satu vendor dari website beres.id. Semacam marketplace kayak Tokopedia/Bukalapak, tapi ini khusus jasa.

Pindahan berarti harus packing. Nah di moment inilah biasanya banyak “sampah” bermunculan. Koleksi aneh yang nggak penting sampai warisan tahun ke tahun yang ngumpulinnya sejak ngekost – nikah – pindah ke kontrakan. Dan bodohnya, banyak barang yang jadi “sampah” karena dibeli sampai berkali-kali.

Contohnya, alat gambar. Aku dan istri kebetulan punya hobi buang-buang uang untuk beli buku gambar, sketchbook, pensil, cat air, pensil warna, macam-macamlah. Nah waktu kemaren packing, ada hampir 3 kotak pensil warna 36 pieces. 2 kotak malah belum dibuka karena sempat “hilang”. Entah terselip dimana dan akhirnya beli lagi.

Barang-barang lain juga begitu. Mulai dari yang sepele kayak pensil warna, sampai power bank yang harganya ratusan ribu muncul dari balik lemari. Kaleng tempat koin-koin lamaku juga akhirnya ketemu setelah kucari setahun lebih. Literally, setahun.

Dari situ aku baru sadar, sejak pertama kali ngekost sampai akhirnya punya rumah, aku punya kebiasaan buruk membeli sesuatu tanpa mikir panjang. Well, in my defense, aku mikir panjang sebelum beli suatu barang, tapi kalau tiba-tiba barang itu nggak kelihatan, aku nggak mikir cukup panjang untuk mencari dulu pelan-pelan sebelum beli barang yang sama.

Aku sempat baca tentang minimalism, dan kebetulan kawan kantorku juga mulai mempraktekkan ilmu ala-ala Jepang ini. Minimalism ini adalah “seni” berpikir kritis sebelum membeli atau memiliki sesuatu. Jadi yang dibeli itu harus benar-benar penting, supaya tempat penyimpanannya pun nggak semrawut dan mencarinya lebih cepat kalau mau dipakai.

Intinya, perlu. Mungkin inilah yang membuat kebanyakan penggiat minimalism itu laki-laki. Karena perempuan susah menentang barang-barang lucu yang sebenarnya nggak mereka butuhkan.

Minimalism itu menentang impulsive shopping. Diskon itu termasuk ujian besar untuk minimalist, karena banyak barang-barang diskon sebenarnya nggak terlalu penting, tapi karena diskon ya harus dibeli. Alasan pembenarannya, “takut besok harganya udah naik.”

Minimalist biasanya nggak punya hubungan sentimentil dengan barang-barangnya. Sementara aku, sepuluh dari seratus barang di lemariku biasanya punya arti sentimentil. Dikasih, beli dari gaji pertama, dibelikan istri, atau apalah alasannya.

Biarpun begitu, minimalism nggak menentang hubungan sentimentil. Cuma menyuruh untuk membatasi, apalagi untuk hal-hal yang nggak penting. Karena menolak pemberian orang lain itu nggak baik biasanya minimalist membuat wish list dan nggak malu menunjukkannya ke orang-orang dekat, yang mungkin dalam waktu dekat akan memberikan hadiah. Biarpun gengsi, cara ini bisa mengurangi hadiah-hadiah nggak penting.

Ini juga alasan kenapa setiap kali aku ulang tahun, aku nggak pernah mau dibelikan sesuatu sama orangtua, kawan, atau istri. Most of the time, aku minta “mentahnya”. Aku orangnya pemilih, jadi bisa aja mereka kecewa kalau aku nggak pakai hadiah pemberian mereka. Jadi daripada sakit hati, lebih baik aku yang beli sendiri. Untuk istriku, biasanya dia tentukan budgetnya, terus aku milih barang yang sesuai budget.

Sebaliknya aku juga lebih suka ngasih uangnya ke orang yang berulang tahun. Uang itu mau dipakainya untuk apapun ya terserah dia.

Anyhow, itu pelajaran tentang minimalism yang tiba-tiba muncul di kepalaku karena lagi packing. Mudah-mudahan nanti di rumah baru, barang-barang ini bisa lebih minimalist lagi jadi kalau pindahan ke kota atau negara lain nggak perlu ngangkat kardus besar sampai dua puluh.