Almost Due – Our Pregnancy Short Story

Almost Due – Our Pregnancy Short Story

It all start with one thing. Dari jutaan calon generasi medioker (karena yang jawaranya sudah gugur di atas tisu dan lantai kamar mandi) cuma butuh satu yang paling cepat berenang – the Phelps of all sperm.

Kami menunggu tanda-tanda kehamilannya nggak terlalu lama, cuma 6 bulan setelah menikah. Biarpun sebenarnya di bulan kedua istri udah mulai merasa “nggak fit” dan ternyata ada hamil anggur, ini gagal karena kondisi yang nggak mengizinkan.

Flashback ke announcement date. Menurut pengakuannya, istriku sebenarnya punya rencana untuk bikin announcement kayak orang-orang. Dibuat dramatis, pakai kotak kado, pakai clues atau apalah, tapi ujung-ujungnya karena nggak sanggup nahan excitementnya sendiri, dia cuma ngasih test-pack dua garis tanpa pengantar. My response? Aku malah skeptis dan mikir kalau test-pack itu baby-test (mirip testpack tapi fungsinya untuk ngecek subur ato nggak).

Look at my shirt, it’ my husband’s.

Skip ke bulan-bulan berikutnya, nggak banyak yang berubah selain berat badan dan selera makan yang pelan-pelan makin beringas. Untungnya nggak ada ngidam yang aneh-aneh. Cuma waktu di awal kehamilan, mungkin karena indera penciuman yang ultra sensitive dan gampang mual, istriku yang tadinya nggak suka asam, sekarang dia bisa makan mangga muda yang asamnya bangsat banget. Dan yang tadinya minum lemon tea pun nggak mau, sekarang lemon bisa dikunyah sama dia kayak makan jeruk mandarin.

Skip ke trimester terakhir, which are Desember ke Februari, kondisinya semakin “nggak fit”. Yang 6 bulan pertama masih cukup gesit, sekarang mulai melambat. Yang selama enam bulan itu berubah posisi tidur sudah susah, di trimester terakhir ini malah makin kasihan. Bayangkan, untuk berubah dari posisi terlentang ke menyamping dia perlu 15 detik, diselingi atur napas. Antara kocak atau kasihan sebenarnya.

Di trimester terakhir ini gerakan janin makin brutal. “Tendangan super” yang tadinya malu-malu sekarang makin kelihatan mendorong kulit perut dengan semena-mena. Kadang kalau bocahnya lagi jumpalitan, semua sisi perut istri udah kayak wave-pool di waterpark. Bergejolak dari atas sampai bawah, dari kiri ke kanan, bolak-balik nggak berhenti-berhenti. Tapi anehnya (dan kurang ajarnya) kalau aku mulai ngomong atau terdengar excited, dia malah diam. Entah karena sombong atau memang dia udah mulai kurang ajar sama bapaknya sejak dari kandungan.

“He’s so handsome, I let him put a baby in me.”

Anyway minggu kemarin ada berita kurang baik tentang kondisi janinnya. Karena perkembangannya yang more than average, ada kemungkinan kalau bayinya nggak muat masuk ke panggul. Sebenarnya untuk ukurannya nggak ada masalah, tapi karena istriku tingginya cuma 148cm, lingkar panggulnya cuma cukup untuk mengeluarkan janin dengan berat 2.5kg. Sementara calon mafia Depok ini di umur 35 minggu sudah 2.3kg, jadi kemungkinan untuk lahiran normal semakin kecil. Kalau kutangkap dari diagnosis dokter, 60% caesar.

Dari awal kehamilan, aku memang selalu membuat perhitungan biaya yang paling mahal. Malah aku sudah buat perhitungan 2 tindakan, karena ada kasus kakak sepupuku yang harus bayar 2 kali (normal + caesar) karena sudah sempat normal plus induksi tapi nggak bisa keluar dan terpaksa caesar. Terlepas dari pembayarannya pribadi atau asuransi, biaya untuk lahiran ini nggak bisa dibilang kecil. Tapi demi kenyamanan, kemudahan akses rumah sakit, kemudahan keluarga untuk berkunjung dan nggak ada batasan jam besuk, akhirnya kami memilih RS. Hermina Depok atau RS. Budi Kemuliaan Jakarta.

“I will pretend I am not in much pain right now, for Instagram.”

Untuk dokter, kami cukup percaya dengan testimoni orang-orang tapi juga nggak mengesampingkan kenyamanan pribadi. Di Hermina, karena testimoni dan experience pribadi kami cukup sejalan, kami pilih Dr. Nining Haniyanti. Dokter yang antrian prakteknya udah macam minta tanda tangan artis. Di internet udah banyak testimoni tentang dokter ini jadi aku nggak usah cerita lah. Sementara untuk Jakarta, sebenarnya ada kawan yang merekomendasikan Dr. Dwi, tapi karena kami nggak pernah sempat kontrol ke beliau, pilihannya jatuh ke Dr. Hasan Alatas, dokter keturunan arab yang agak-agak nyeleneh juga kelakuannya.

Jadi, inilah cerita singkat kehamilan kami yang tinggal sebentar lagi. Mudah-mudahan semuanya lancar dan 2018 bisa jadi tahun yang penuh berkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *