Bumi Segi Delapan

Bumi Segi Delapan

… tujuh, delapan, sembilan, se –

“Hot cappuccino?”

“Lama kali kau.”

“Maaf kak, barista kita yang satu lagi sakit.” Kata seorang pramusaji perempuan sambil menunduk dan meletakkan segelas kopi dan sepiring kentang goreng di mejaku. “Ini compliment dari dapur.”

Aku tidak mempedulikannya.

“Kau tau torrent air?” Tanyaku ke Duran.

Perempuan berkemeja hitam dengan celemek kulit kebesaran itu sudah pergi entah kemana.

“Apa urusannya sama torrent air?” Dia bertanya balik.

“Kebiasaan kau kalau ditanya malah nanya balik.” Jawabku. “Kotoran di torrent air itu mengendap di bawah dan nggak akan keluar kalau air di dalamnya masih penuh.”

“Terus?”

“Kalo tadi sampai hitungan sepuluh kopi ini belum muncul, siaplah dia kumaki. Aku udah habis sabar, tinggal sebentar lagi kotorannya udah hampir keluar.”

“Jadi kau mau berak?” Tanya Duran sekenanya, yang kujawab dengan acungan jari tengah di depan mukanya.

Thomas Whitaker secangkir kopi terbaik akan semakin enak kalau dinikmati dengan orang terdekatmu. Aku yakin bajingan kulit putih itu belum pernah punya orang dekat seperti Duran.

Seorang perempuan masuk sambil menenteng paper bag berlogo PRADA. Terlalu muda untuk jadi pengusaha dan terlalu tua untuk jadi mahasiswa simpanan oom-oom, jadi kusimpulkan dia sudah menabung seumur hidupnya untuk punya barang apapun di dalam tas belanjanya itu. Bau jeruk dan bunga tercium pudar waktu dia melewati meja kami, diikuti dengan mata mesum Duran yang belum berhenti memandanginya sejak pertama kali dia mengibaskan rambutnya di depan pintu kedai kopi kapitalis ini.

“Bokep!” Bentakku agak tertahan karena kata itu tabu untuk diucapkan di antara orang-orang berpendidikan di tempat ini.

Duran tidak membalas.

“Jadi menurutmu bumi itu bulat atau datar?” Katanya setelah selesai memuaskan mata dan imajinasinya ke perempuan barusan.

Dimana perempuan itu? Ah itu dia.

Mencoba menyamankan duduknya di sudut ruangan, tepat di bawah lampu kekuningan yang membuat mukanya sedikit lebih tirus. Seperti tebakanku, ransel hitam gendut di punggungnya memang berisi laptop kekinian yang dipakai sebagian besar wanita pekerja di kota ini – Lenovo Thinkpad.

“Bumi itu segi delapan. Oktagon. Tempat petinju-petinju UFC itu cari makan.” Jawabku kemudian mengembalikan perhatianku ke Duran.

“Agak kurang kerjaan sih menurutku.” Katanya. Dia menyeruput es kopinya tanpa sedotan. Aku benci suara menyeruput. Itu mirip suara kentut tertahan. “Kau tau jelas kalau dia itu manusia setengah jadi yang nggak pernah mengalah dalam kondisi apapun.”

“Kan udah kubilang. Kadang manusia macam itu memang harus didebat biar nggak terlalu lancar mulutnya.” Aku menjawab sambil mengeluarkan sedotan dari bungkus kertasnya dan melemparkannya ke dalam gelas kopi Duran.

Dia mengangkat gelas kopinya, membengkokkan sedotan yang baru kumasukkan dan menyeruput lagi.

“Tapi sekarang kau kesal dan dia mungkin lagi bercinta sama istrinya. Kesalmu nggak sepadan. Kau bahkan jadi nggak peduli kalau perempuan itu daritadi curi-curi pandang ke arahmu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *