Freelance?

Freelance?

Kemaren pas makan gaji buta aku iseng-iseng buka blog seorang kolega yang resign setelah melahirkan anak kedua. Sempat penasaran juga, gimana ya seorang insinyur – sebutan insinyur kuanggap lebih baik daripada teknisi – yang biasanya sibuk, sekarang harus jadi ibu rumah tangga yang baik.

Ngurusin anak nggak kalah sibuk daripada kerja di kantor. Malah seringkali kerjaan di rumah justru lebih melelahkan. Di kantor ada jam makan siang yang etikanya nggak boleh diganggu dengan kerjaan. Di rumah nggak ada istilah istirahat makan siang. Pas lagi makan pun kalo anaknya pup ya harus dibersihkan, kemudian lupa cuci tangan, kemudian lanjut makan lagi.

Terlepas dari situ, ternyata dia pun mulai merasa jenuh. Sama lah dengan orang kantoran yang kadang waktu luangnya lebih banyak dari waktu kerjanya. Di rumah pun waktu anak-anak sedang tidur, mau bersih-bersih rumah masih malas, mau nonton sinetron isinya sampah semua, mau nonton film belum ada yang bagus, akhirnya jenuh juga.

Di luar perkiraanku, ternyata dia ikut online freelance via beberapa web penyedia jasa pekerjaan paruh waktu yang bayarannya pakai dolar. Informasinya cari aja sendiri di Google, ada banyak mulai dari yang remeh-temeh kayak data entry sampai yang specialized kayak programming.

Freelance sendiri menurutku bukan pekerjaan yang bisa digeluti sembarangan orang. Freelance ini ibarat forex kalau di dunia investasi. Sementara kerjaan kantor itu ibarat reksadana yang diam-diam aja bisa dapat ROI.

Aku pernah beberapa kali mencoba jadi freelancer. Mulai dari self-selling, ngoceh di media sosial minta kerjaan, sampai online freelancer yang harus daftar kemudian ujian (saringan masuk) sebelum dapat izin untuk “bidding” kerjaan.

Kubilang nggak sembarangan orang bisa jadi freelancer karena di dunia ini sama sekali nggak ada bos dan nggak ada siklus kerja. Yang ada cuma kerjaan, deadline, dan aturan penyelesaian pekerjaan. Kalau di kantor, kerjaan pasti datang tanpa diminta. Kadang pas udah mau pulang pun kerjaan bisa muncul tiba-tiba. Jadi freelancer itu macam tukang taman yang mondar-mandir nyari rumah baru, dan karyawan kantor itu macam tukang pohon yang di pinggir-pinggir jalan.

Setelah beberapa kali nekad untuk jadi freelancer, walaupun sebenarnya aku masih kerja di kantor juga, ternyata aku nggak sanggup. Untuk kondisi online freelance, aku nggak sanggup harus bersaing dengan orang-orang di belahan dunia lain yang bisa bidding tengah malam karena zona waktu client nggak sesuai dengan Indonesia. Setelah dapat kerjaan pun aku nggak punya disiplin yang cukup untuk kerja tanpa siklus. Sistem kebut semalam yang ampuh waktu kuliah dan di korporat ternyata nggak bisa dipakai kalau jadi freelancer. Testimoni dari kawan yang cukup berhasil jadi freelancer selama bertahun-tahun, kuncinya adalah mencicil kerjaan. Konsekuensinya, freelancer bisa kelihatan nggak punya kehidupan karena di kedai kopi pun kerja.

Yang terakhir, aku nggak sanggup jadi freelancer karena pendapatannya berbanding lurus dengan capeknya. Jadi nggak ada istilah makan gaji buta kalau jadi freelancer. Sementara sekarang di kantor bisa datang jam 11 – pulang jam 6, kerjaan muncul cuma 10 dari 22 hari kerja, kalau jadi freelancer dengan model kerja macam ini, bisa-bisa untuk makan 3 kali sehari pun susah.

Intinya, susah untuk seorang corporate worker untuk jadi freelancer dan sebaliknya. Karena biasanya orang yang sudah lama jadi freelancer nggak akan bisa merasa nyaman (dengan cepat) kalau dia harus dibatasi dengan segala pakem di kantor. Kalau freelancer bisa kerja pakai kolor di tepi pantai, di kantor jangan coba-coba.

So, hats off for all you freelancer out there. May your bank account is always loaded and your sleep is sufficient. As for me? I think I am (trying to be) okay with this corporate thingy.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *