Menolak Pindah

Untungnya kita nggak hidup di negara yang menganggap orang dewasa yang masih tinggal di rumah orangtua itu aneh. Kawanku tinggal bersebelahan dengan mertuanya, dan kawan istriku bahkan tinggal serumah dengan orangtuanya.

Aku dan istri sama-sama anak sulung yang nggak “betah” tinggal berdekatan dengan keluarga, termasuk orangtua. Bukan karena kita nggak nyaman, lagipula siapa yang nggak suka kalau bisa setiap minggu ketemu orangtuanya? Macam orang-orang yang kerja di Jakarta dan orangtuanya di Bandung misalnya. Cuma dia nggak bisa merasakan sensasi pulang ke kampung yang jauh. Kalau urusan lama, Jakarta – Bandung pas lebaran pun bisa 5 jam, jadi nggak terlalu beda lah dengan orang yang kampungnya di Kabanjahe.

Kami mikir kalau tinggal dekat dengan keluarga itu pasti canggung. Akan muncul masanya “rahasia” kita sampai ke rumah sebelah. Terlepas dari benar atau tidak, kami juga nggak bisa memastikan.

Sementara adekku kurang setuju dengan prinsip ini.

Dia memang jarang jauh dari orangtua. Tapi track recordnya punya orangtua juga nggak bisa dibilang bagus. Dulu dia pernah minggat dari rumah karena satu dan lain hal. Dia juga bukan pelajar yang baik, bahkan guru BPnya sempat meledek kalau mereka rindu kedatangan bapakku ke sekolah. You know, panggilan orangtua karena anaknya badung.

Tapi rupanya Roh Kudus hinggap di pundaknya waktu kuliah dan bertahan di sana sampai sekarang. Setelah lulus kuliah, dia nggak pernah mau jauh dari orangtua kami. Dia sempat kerja jadi guru bantu – mata pelajaran olahraga – di SMA dekat rumah, sambil persiapan CPNS. Targetnya supaya bisa mengajar di bekas sekolahnya dulu.

“Biar guru-guru itu manggil aku Pak,” katanya kalau ditanya kenapa dia mau balik kesana.

Setelah hampir setahun mengajar, karena intrik dengan guru yang dibantunya, dia berhenti, dan setelah hampir dua bulan tanpa uang jajan, dia ditawari “dapur” di kedai kopi temannya. Konsepnya agak aneh menurutku – semua order dari dapur jadi haknya, kecuali kopi dan minuman – tapi karena modal yang kami keluarkan memang nggak besar, nothing to lose lah. Ternyata ini pun nggak bertahan lama karena temannya itu bajingan. Adekku wajib membantu urusan kopi, diminta standby sampai kedai tutup jam 12 malam, tapi karena nggak ada order makanan dari dapur, dia nggak dapat satu rupiah pun dari uang minuman.

Ini satu lagi alasan kenapa aku nggak mau dekat-dekat keluarga, karena kalau sudah ngomongin uang, keluarga pun bisa jadi lawan.

Singkat cerita akhirnya dia mulai berontak dan pelan-pelan mencoba keluar dari kongsi supaya nggak ada sakit hati. Nah, beberapa hari kemarin kami diskusi tentang rencananya untuk membuat usaha sendiri, masih kedai kopi dan makanan ringan karena memang dari dulu dia sudah paham seluk beluk bisnisnya. Aku sebagai abang yang baik coba menawarkan supaya dia “hijrah” ke Jakarta dan buka lapak di sini. Kebetulan nggak jauh dari rumahku ada food court kecil yang sewanya nggak terlalu mahal untuk jadi tempat jualannya kalau dia mau.

Tapi ini bukan tentang bisnis dan masa depannya, ini tentang jawabannya yang bikin merinding dan agak menusuk.

“Kalau aku kesana dan ada apa-apa di rumah, siapa yang ngurusin Mamak sama Bapak?”

Satu hal yang mungkin nggak pernah kupikirkan. Selama ini aku termasuk yang nggak terlalu khawatir tentang orangtua. Di kepalaku, selama mereka masih bisa update status Facebook dan masih ceria kalau di telepon, berarti semuanya masih baik-baik saja. Aku nggak pernah punya pikiran untuk pulang kampung paling tidak untuk sepuluh tahun ke depan. Mungkin nanti kalau modalku sudah cukup dan aku bisa membuat uangku bekerja sendiri tanpa harus diawasi.

“Ternyata anak yang dulu paling bandel justru yang nggak mau jauh-jauh dari kalian kan.” Katanya ke orangtuaku yang bikin mereka nggak bisa nahan air matanya di tahun baru dua tahun yang lalu.

Ini bukan persoalan dia pernah bandel atau nggak sebenarnya. Ini persoalan seorang anak yang rela melewatkan kesempatannya untuk cari uang di tempat yang lebih “basah” demi bisa melihat orangtuanya setiap minggu. Kenapa nggak setiap hari, karena dia selalu pulang tengah malam dan tidur sampai jam 10 pagi waktu orangtuaku sudah ke kantor.

Untuk orang lain, gesturnya mungkin terlihat klise, mirip alasan orang yang menolak mandiri. Tapi untukku, jawaban dan praktiknya ini malah menunjukkan kalau dia jauh lebih dewasa daripada aku untuk urusan menikmati pengalaman maksimal punya orangtua. Karena kalau dipikir-pikir, dengan umur mereka yang sudah hampir enam puluh, mereka cuma punya waktu 20 sampai 25 tahun lagi untuk ukuran manusia zaman sekarang.

Misalnya aku cuma bisa pulang sekali dalam dua tahun, berarti aku cuma bisa ketemu orangtuaku 12 kali lagi, dan kalau dipikir-pikir, ini sebenarnya agak menyedihkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *