Takut

Takut

Banyak kepercayaan yang meyakini Adam tidak diciptakan sendirian. Ketika Adam dibentuk, kulit tangan Tuhan yang menyentuh debu tanah membuka gerbang gaib yang tidak akan pernah bisa tertutup kecuali bumi ciptaan-Nya dihancurkan.

Makhluk-makhluk tidak kasat mata pun menggunakan gerbang itu untuk berhubungan dengan dunia “tengah” yang dihuni oleh semua ciptaan Tuhan yang berwujud. Sementara makhluk itu adalah zat yang abstrak, mereka bisa membentuk dirinya sendiri menyerupai apapun yang mereka inginkan.

Adapun Lucifer dibuang dari surga memilih wujud ular berkaki delapan – sebelum akhirnya dikutuk berjalan selamanya dengan perutnya karena telah membawa manusia ke dalam dosa – diberikan kemuliaan untuk menjadi penguasa alam gaib, mengatur keluar dan masuknya makhluk-makhluk penghuni alam “bawah” itu.

“Apa yang paling kamu takuti?” Kata Nala. Kaitan bra terakhir di punggungnya sudah terlepas. Menyampirkannya ke punggung kursi dan berganti dengan gaun tidur tipis berwarna biru pucat.

“Nggak ada.” Jawab Indra suaminya yang sudah bertelanjang dada, menunggu di atas tempat tidur dengan selimut menutupi pinggangnya sampai ke ujung kasur.

“Hantu?” Tanya Nala sesaat setelah dia menyamankan diri di bawah selimut yang sama dengan Indra. Dia menarik tangan kiri Indra dan menaruhnya di bawah lehernya. Nala memalingkan kepalanya ke kanan, mengamati wajah berbulu suaminya dari samping.

“Aku nggak pernah percaya hantu,” kata Indra. Mukanya menghadap langit-langit kamar, tapi istrinya bisa mendengar ketegasan dari nada suaranya “Termasuk jin yang diajarkan agama sebelah.”

“Kenapa?” Tanya Nala.

Indra baru akan membuka mulutnya waktu kilatan cahaya dari luar kamar membuatnya tercekat. Kamar pengantin mereka yang temaram sesaat terang benderang disusul suara petir menggelegar yang memekakkan telinga.

“Ya Tuhan!!” Nala terperanjat. Dia beringsut cepat merangkul badan suaminya.

Indra tertawa kemudian merangkul tubuh mungil istrinya sambil mengusap-usap rambutnya yang masih keras karena semprotan salon.

“Semua hal bisa dijelaskan dengan logis,” katanya menjawab Nala. “Contohnya kamu yang takut petir.”

“Tapi kan -”

“Nanti, ketika semua penjelasan logis sudah habis dipakai tapi fenomena itu masih ada, mungkin saat itulah aku bisa yakin kalau rasa takut itu nyata.” Pungkas Indra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *