Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Waktu nyetir atau commuting on train, aku sering berkhayal ngobrol dengan seseorang yang kukenal atau malah yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Kadang aku berdiskusi dengan mereka berjam-jam, kadang berbantah-bantahan hanya beberapa menit kemudian salah satu mengalah dan diam.

Kali ini aku membuat satu kategori baru untuk tulisanku, diambil dari obrolan imajiner dengan orang-orang atau makhluk itu yang kadang membicarakan hal penting, tapi lebih sering hal-hal bodoh yang tidak berfaedah. Semua tulisan dalam topik ini adalah fiksi dan hanya terjadi di pikiranku, kecuali ku-state sebaliknya.

Tulisan ini bukan untuk kalian yang terlalu sensitif dengan hal-hal duniawi. Untuk yang bisa bersantai dengan bacaan fiksi, selamat menikmati.

Disclaimer: all transcript is a fiction, duh!

“Halo Stephen, apa kabar?”

Seribu dua ratus tiga puluh lima hari dan delapan puluh tiga email sudah kukirim untuk bisa mengundang tokoh spektakuler ini, dengan segala alasan yang membuatnya tidak pernah terlaksana. Dan hari ini, seorang Stephen Hawking akhirnya bersedia datang untuk menjawab dua atau tiga pertanyaanku. Begitulah jawaban email yang dikirimkan asistennya kemarin.

Sebenarnya aku penasaran apakah dia yang membalas emailku atau asisten pribadinya yang kudengar-dengar adalah hasil kolaborasinya dengan Elon Musk. Laki-laki satu itu punya banyak ide di kepalanya dan hanya orang-orang segila dia – maaf Steve – yang bisa menerima dan rela jadi kelinci percobaan.

“Panggil aku Mr. Hawking,” katanya.

Tentu saja dia menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Menerjemahkan pertanyaanku dan jawabannya bukan perkara sulit untuk mesin yang bisa mewakili Stephen Hawking berbicara hanya dengan membaca kedutan saraf kecil di pipi.

“Oh, oke. Maaf Steve, maksudku Mr. Hawking.”

“Aku bercanda.” Katanya.

Aku dengan bodohnya berusaha membaca raut mukanya. Dia sudah tidak bisa berekspresi dengan jelas sejak bertahun-tahun lalu.

“Aku bercanda,” ulangnya. “Tidak usah kau lihat raut mukaku. Istriku bahkan tidak bisa membedakan aku sedang lapar atau jijik dengan kotoranku sendiri.”

Aku diam, bingung harus tertawa atau tidak. Lelucon ini terlalu sensitif untuk kutertawakan tapi aku akhirnya tertawa demi kesopanan.

“Baiklah Steve, jadi aku hanya punya tiga pertanyaan?”

“Kalau aku menjawab itu maka kau hanya punya sisa dua.”

Shit. I can never win against this man.

Oke, jadi kuanggap masih ada tiga kesempatan. Think dude, think.

“Kau percaya Tuhan?” Tanyaku.

Damn! Kenapa pula aku menanyakan itu. Orang seperti Hawking dia tidak mungkin percaya Tuhan. Otaknya terlalu rumit untuk percaya hal se-sederhana itu. Dia itu ilmuwan. Ahli luar angkasa pula. Dia punya pusat riset untuk memetakan luar angkasa yang bahkan nggak pernah dipikirkan manusia. Dan aku malah bertanya tentang Tuhan? Satu pertanyaan sia-sia.

“Percaya.”

Apa?!

Dia melihat lurus ke mataku. Dari tadi dia melihat lurus ke arahku. Justru aku yang terlalu kikuk untuk membalas tatapannya.

“Ya, aku percaya. Kau mungkin berpikir kalau aku menganggap ketuhanan itu terlalu sepele. Ada seseorang yang turun atau berhasil mencapai langit, mendapat wahyu ini dan itu kemudian mengajarkannya kepada Manusia.

Well, untukku ketuhanan bukan tentang sesuatu yang bisa kau lihat dan kau rasakan. Untukku ketuhanan itu adalah tentang kepercayaanmu bahwa di luar sana ada sesuatu yang tidak bisa kau bayangkan, sesuatu yang bahkan alat tercanggih pun tidak mampu memetakan dan menuliskan teorinya. Sesuatu yang luar biasa yang mengatur setiap kejadian di dunia ini, dan Tuhan dan ketuhanan hanya istilah yang dipakai manusia untuk menjelaskan ketidaktahuannya tentang sesuatu itu.

Aku kelu. Seumur hidup aku tidak pernah kehabisan bahan pertanyaan atau sanggahan, atau apapun itu dalam diskusi. Tapi untuk manusia di depanku ini, yang bahkan melihat matanya pun aku tidak sanggup berlama-lama, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya mengangguk-angguk seperti mainan anjing-anjingan di dalam mobil.

“Pertanyaan selanjutnya?” Katanya menyadarkanku.

“Kau percaya surga?”

Fuck! Setelah Tuhan sekarang surga? Apa yang salah dengan otakmu hari ini?

Sudahlah, kepalang tanggung. Pertanyaan ini lebih masuk akal daripada aku bertanya kopi kesukaannya setelah aku menanyakan tentang Tuhan.

“Kau percaya surga?” Ulangku.

Dia tidak menjawab. Aku menunggu dia mengangguk atau menggeleng tapi kemudian aku mengutuki diri sendiri.

“Aku percaya dunia paralel.” Jawabnya.

Aku diam. Tidak mungkin dia berhenti sampai disana.

“Ada banyak planet di tata surya kita, dan di luar sana pasti ada banyak tata surya lain dan planet-planet yang lebih banyak lagi. Kalau kau coba untuk melakukan kombinasi atau permutasi, pasti ada potensi satu dari sekian puluh juta tata surya yang mirip dengan tata surya kita. Mungkin malah duplikatnya.

“Tapi seperti halnya duplikat lain, ada hal-hal unik yang tidak bisa diduplikasi. Bahkan cermin pun tidak bisa menunjukkan dengan sangat tepat sesuatu yang ada di depannya. Pasti ada perbedaan mungkin di level atomik atau level kosmik yang saling terhubung. Dan di salah satu planet itu ada tempat dimana kau akan hidup setelah kau mati disini. Dan ketika kau sampai disana kau akan lihat semuanya jauh lebih baik daripada bumi kita dan untuk sebagian besar orang mungkin itulah yang mereka sebut dengan surga.

Lihat kan? Sudah kubilang dia tidak akan menjawabnya sesingkat itu.

Jawaban itu mengalir dari mulutnya – atau speaker di kursi rodanya – dengan lancar, sedikit terputus-putus karena dia harus mencari kata yang tepat tapi tidak menunjukkan keragu-raguan. Dia punya jawaban untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi di sekelilingnya, termasuk untuk hal yang abstrak seperti surga dan neraka mungkin, tapi aku tidak akan menanyakannya.

Seseorang yang tahu banyak hal ternyata tidak menutup dirinya untuk hal-hal lain yang tidak diketahuinya, termasuk dunia-dunia yang untuk sebagian orang dianggap imajiner dan dijadikan bahan lelucon.

“Terakhir, kau percaya hantu?”

Bibirnya tidak bergerak, tapi suara dari kursi rodanya mengejekku dengan, “ha… ha… ha…”

Tiga suara tawa terputus-putus monoton tanpa intonasi yang lebih mirip suara kaset rusak daripada suara manusia.

“Kau akan jadi hantu setelah aku menimpakan kursi roda ini di atas kepalamu.” Jawabnya.

2 thoughts on “Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *