Immortality is a Curse

Immortality is a Curse

Bagian terbaik dari “work from home” itu adalah nguping.

Nggak ada orang yang bakal curiga kalau kau duduk – sibuk dengan urusanmu sendiri – di depan laptop dan earphone nempel di kuping. Nggak ada juga yang curiga kalau earphone itu nggak mengeluarkan suara apa-apa. Kadang kalau lagi kerja, fungsi earphone itu bukan untuk menghalangi suara dari luar, tapi biar orang-orang rese nggak bolak-balik ngajak ngomong.

Kembali ke topik.

“Eh kalo lo dikasih superpower, lo mau milih apa?”

“Immortality lah.”

Woah, easy young man. Let me tell you something.

Immortality atau keabadian itu bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. Kecuali mereka memang nggak pernah nonton film-film dengan tema ini, kayaknya mereka belum memikirkan masalah apa yang muncul dengan keabadian.

Okelah, di awal mereka mungkin nyaman dengan keabadian. Age is not a thing. Death is nothing but a myth. Mereka punya semua waktu di seluruh dunia untuk mengerjakan apapun yang mereka mau.

Bisa menabung seribu rupiah tiap hari sampai bisa beli Lamborghini kayak punya Hotman Paris.

Bisa belajar main gitar satu kunci tiap hari sampai bisa kayak Yngwie Malmsteen.

Bisa membangun kerajaan bisnis dari nol sampai sebesar grup Djarum.

Ini contoh yang bisa mereka kerjakan, dengan asumsi selain Death Defying Power mereka juga dapat Age Defying Power. Bayangkan seandainya mereka nggak bisa mati tapi badannya makin lapuk sesuai dengan umur. Nggak ada hal yang menarik dari Super Trillionaire yang penampilannya macam mannequin tengkorak biologi dikasih kulit.

Okelah ada satu dua pekerjaan yang nggak butuh penampilan menarik. Tapi punya uang banyak dari perusahaan atau saham di seluruh dunia tapi nggak bisa menikmati, untuk apa?

Penampilan jadi salah satu masalah immortality. Ini sih sepele karena ilmu kedokteran sekarang udah bisa melakukan apa aja. Suntik botox, tarik kulit, tambah filler, ini dan itu semuanya udah bisa. Sedangkan bikin perempuan jadi laki-laki aja bisa, apalagi cuma membuat kelihatan muda.

Masalah kedua adalah, nobody else is having immortality except  you. Ini yang paling pelik dan menyedihkan. Berapa puluh kali kau bisa tahan melihat orang yang kau sayang mati duluan sementara kau masih hidup (dan penampilanmu nggak berubah – macam Vampire).

Kalau kau pernah nonton the Last Witch Hunter yang dimainkan Vin Diesel dengan nggak begitu bagus, cara satu-satunya untuk menghindari ini adalah Detached. Nggak boleh menyimpan rasa apa-apa ke siapa-siapa supaya kapanpun dia harus pergi atau seseorang harus mati, dia nggak perlu sedih.

Tapi apalah artinya segala harta di dunia ini tanpa seseorang (yang kau sayang) untuk berbagi?

Dari situ kelihatan kalau keabadian itu bukan hadiah. Deadpool itu abadi. Dia nggak bisa mati walaupun kepalanya diledakkan. Beda dengan Logan (Wolverine) yang ujung-ujungnya mati karena badannya mulai renta dan healing factornya juga mulai kalah sama “racun” dari Adamantium. Tapi biarpun Deadpool itu abadi, dia punya pedang yang bisa menghilangkan superpowernya. Jadi sewaktu-waktu dia bosan sama dunia ini, dia tinggal bunuh diri atau minta dibunuh biar nggak berdosa.

Anyway, Immortality is a curse. You will realize it as soon as you get it. Jadi, jangan diminta-minta ya. Mintalah kesehatan dan kebijaksanaan, maka semua kekayaan dunia akan ditambahkan untukmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *