Nama Role Model itu, Hotman Paris

Nama Role Model itu, Hotman Paris

Jujur, aku muak dengan motivator dan tokoh-tokoh inspiratif. Alasannya sederhana, kehidupan yang mereka tunjukkan ke publik itu kelihatan terlalu “sempurna.” Terlepas bagaimana cara mereka berusaha meyakinkan orang kalau mereka berasal dari keluarga miskin, bagaimana mereka bersusah payah – banting tulang – untuk sampai ke posisi mereka sekarang, image mereka terasa “asing” dan too good to be true.

Terbukti seorang Mario Teguh ternyata punya masa lalu yang akhirnya menjatuhkan dia. Dimana Mario Teguh sekarang, paling cuma keluarga, orang terdekat dan orang media yang tahu.

Kemudian muncul seorang Hotman Paris Hutapea. Dia sebenarnya bukan sosok baru. Banyak orang yang kenal Hotman dan tahu seberapa kayanya dia. Tapi belakangan, ribuan laki-laki mulai mempertanyakan jalan hidupnya dan mungkin menyesali pilihan jurusan kuliahnya.

Seorang Hotman Paris adalah role model baru untuk laki-laki millennial. Bisa jadi untuk generasi X atau baby boomer.

Kenapa Hotman? Karena dia jujur. Kenapa Hotman? Karena dia nggak menutupi siapa dia sebenarnya. Dia joget-joget di kolam renang dengan gadis-gadis berbikini. Dia dengan santai bersandar di bahu perempuan-perempuan cantik. Dia mengundang SPG berlian ke rumahnya dan vlogging cuma dengan handuk melilit pinggang sampai dada, mirip kemben perempuan Jawa.

“Aku peluk-peluk perempuan di kolam renang, berani upload ke Instagram. Suamimu peluk-peluk perempuan di kamar hotel sembunyi-sembunyi,” katanya di satu video di Instagram. Hotman itu jujur.

Terlepas dari pendapat orang-orang bahwa dia itu kurang ajar, seorang Hotman menunjukkan gayanya yang asli.

Dia punya keluarga, istri dan tiga orang anak. Bukan nggak mungkin keluarganya pun keberatan dengan exposure dari kegiatannya.

Bukan cuma urusan perempuan. Hotman Paris juga terkenal tukang pamer. Semua asesoris mewah yang menempel di badannya, mobil-mobil supercar yang sering dipakainya untuk minum kopi di Kopi Joni dan makan bubur ayam di pinggir senayan, semuanya pernah dipamerkannya. Tapi anehnya, respon orang-orang di Instagramnya justru positif.

Hotman seringkali membandingkan dirinya dengan haters yang cuma bisa nyinyir tapi nggak punya prestasi, apalagi harta sebanyak Hotman. Dia memang terlalu peduli dengan pembencinya, tapi justru itulah cara dia untuk menunjukkan kalau laki-laki itu harusnya kerja lebih giat, bukannya nyinyir nggak berguna.

Dia nggak perlu kata-kata motivasi, inspiratif, atau nasehat-nasehat yang diambil dari kutipan kalimat orang pintar. Dia ngomong apa adanya, menunjukkan kalau dia juga kadang brengsek, kadang bisa sedih kalau ada korban kejahatan yang diperlakukan tidak adil di mata hukum, bisa genit, bisa juga menjijikkan layaknya laki-laki tua yang mulai puber kedua.

Tapi semuanya itu justru membuat Hotman terlihat lebih “manusiawi” tanpa topeng yang dibuat-buat.

Be like Hotman, he’s the real Hot Man.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.