Manusia-manusia bejad

Manusia-manusia bejad

Menari di atas penderitaan orang lain mungkin kedengarannya terlalu klise. Tapi menjarah di atas kemalangan orang lain, ini kejadiannya hampir di setiap bencana.

Gempa Lombok beberapa minggu kemarin cukup parah dari segi kerusakan material dan moral. Ini bukan cerita tentang siapa yang sudah kesana untuk membantu tapi cerita tentang manusia-manusia bejad yang memanfaatkan momen “rusuh” itu untuk berbuat jahat.

Hari ini di grup gaming, ada seorang member yang cerita konsolnya hilang waktu gempa. Konsol itu bukan disimpan di rumah, tapi di kantor yang pasti punya CCTV. Sialnya, waktu kejadian CCTV dan segala perangkat storagenya ikut tertimbun puing. Harga konsol memang nggak seberapa dibandingkan nyawa pemiliknya, tapi kalau manusia-manusia bejad itu berani masuk ke kompleks kantor, apalagi cuma sekedar rumah penduduk.

Ini cuma satu dari ribuan kejadian penjarahan di momen-momen bencana. Beberapa tahun lalu, di kampungku ada kebakaran pasar yang cukup besar. Hampir 80% bangunan habis dalam waktu singkat karena kondisi “pasar becek” yang sempit membuat api sulit padam dan bangunan yang hampir semuanya dari kayu yang mudah terbakar.

Di kompleks terluar pasar ada pedagang grosir sembako dan gas, dan belum ada gas 3 kilo. Masih gas 12 kilo yang tabungnya biru dan beratnya lumayan. Waktu kejadian, orang-orang di sekitar kios refleks untuk membantu menggeser (sebenarnya melemparkan) tabung-tabung gas itu sejauh mungkin dari radius kebakaran. Entah siapa, dan darimana, orang-orang akhirnya berhasil memindahkan hampir 50 tabung gas yang hampir semuanya berisi. Mungkin adrenalin yang bisa membuat mereka nggak merasakan beratnya. Masalahnya, setelah tabungnya dipindahkan, nggak ada yang jaga. Orang-orang sibuk memadamkan api, menghancurkan pilar-pilar kayu untuk jalur mobil pemadam. 

Rupanya manusia-manusia bejad tadi punya insting yang lebih tajam dari penjual tahu sumedang, kacang dan mizone di jalur-jalur macet. Setiap kali ada bencana mereka pasti sudah mengintai, menunggu. Ya betul aja, nggak sampai setengah jam tabung-tabung itu ditinggalkan tanpa pengawasan, tinggal 10 yang tersisa.

“Nggak ada manusia yang terlahir jahat,” kata mereka.

Memang betul nggak ada manusia yang terlahir jahat, tapi nggak butuh waktu lama untuk membuat manusia yang tadinya baik jadi jahat.

Jangan lagi ngomongin iman dan agama lah untuk mendiskreditkan orang-orang bejad itu. Karena di Indonesia ini nggak boleh Atheist, dan semua orang wajib punya agama. Mereka juga minimal sekali setahun pasti ke tempat ibadahnya masing-masing. Mereka juga pasti punya hati nurani kalau memang lahirnya dari rahim manusia, bukan dari pecahan batu akik. 

Lingkungan bukan lagi faktor utama seseorang bisa jadi bejad, tapi urusan perut yang paling sering membuat orang kalap dan gelap mata untuk berbuat kejahatan.

Waspada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.