Rumah Baru, Ma Nu Life

Selamat pagi, selamat hari Selasa, selamat tanggal 18 Juli 2017.

Asuransi Manulife nggak ada hubungannya sama sekali dengan tulisan ini, biarpun memang kalau rumah modal kredit wajib pakai asuransi. Aku cuma baru ngeh kalau manulife itu pengucapannya mirip My New Life.

Oke, minggu lalu akhirnya kami pindah rumah. Dan seperti dugaanku, banyak yang protes kenapa kami milih Depok. Dan karena itu bukan urusan mereka, kami pakai alasan-alasan diplomatis biar nggak panjang.

Rumah di Depok, kerja di Jakarta (Sudirman) itu nggak gampang. Akses transportasinya terbatas, apalagi kondisi istri lagi hamil muda. Contohnya kemaren, udah sampai stasiun kereta tiba-tiba dia mual dan karena terlalu lemas, terpaksa cuti sakit.
« Lanjutkan membaca?

Life Wasted

Kalau tiba-tiba ada orang asing muncul di depanku, dan ngomong, “hidupmu sia-sia,” ada fifty-fifty chance orang itu gila, atau orang itu benar.

Jujur, beberapa tahun belakangan ini aku merasa nggak bisa menghasilkan apa-apa. Ya, tanpa mengurangi rasa syukur, aku bisa lanjutin kuliah dengan biaya sendiri, nikah dan punya rumah hasil patungan sama istri, dan masih bisa sedikit membantu orangtua dan adik-adik urusan dana ini dan itu.

Tapi untuk urusan karir, aku merasa jalan di tempat. Well, ada beberapa bisnis yang pernah kucoba dan gagal, tapi aku nggak merasa ada pengalaman berharga yang bisa kupelajari dari kejadian itu, justru aku makin nggak berani mencoba hal baru karena takut gagal.
« Lanjutkan membaca?

When Two Birthday Collides

12 Juli! Happy birthday untukku dan koperasi di seluruh Indonesia.

Menurut internet, Ricky artinya pemimpin. Tapi orangtuaku ngasih nama itu bukan karena mereka tahu artinya bagus, tapi karena Ricky itu sebenarnya RIKI – singkatan dari Hari Koperasi Indonesia.

Disini aku mau berterimakasih ke Bapakku karena dia masih punya sense of humanity untuk nggak ngasih nama RIKI atau RIKY karena menurutku nama itu aneh. Tau sendiri di zamanku besar, bullying karena nama itu lagi trending. Termasuk bullying dengan memanggil nama Bapak.

Aku juga sering protes kalau abang-abang atau mbak-mbak sembarangan mengganti penulisan namaku. “Mbak, pakai CKY, bukan KI,” hampir selalu.
« Lanjutkan membaca?

Pindahan : Belajar Art of Minimalism

Setelah hampir 8 tahun tinggal di Jakarta, aku dan istri sepakat untuk pindah ke “pinggir”. Dengan modal nekat – tapi nggak boleh minjam sama saudara – kami coba cari rumah di daerah yang harga dan ukurannya masih manusiawi.

Lumayan lama juga sampai akhirnya kami ketemu rumah yang cocok di daerah Depok.

“Kenapa Depok? Kenapa nggak Tangsel aja?” Kata kawan-kawan yang kebetulan rumahnya di Tangerang.

Alasannya karena dengan harga yang sama, kami bisa dapat rumah yang lebih besar di Depok. Dan kondisi alam di depok masih lebih nyaman dibandingkan Tangsel yang makin hari makin mirip Jakarta. Mungkin namanya bisa diganti jadi Jakarta 2.0, dengan semua bangunan apartment, perumahan elit, kompleks kantor dan mall-mall besarnya.
« Lanjutkan membaca?

Ugly Truth : People Don’t Care

Hey guys.

Ada yang tahu dimana Mario Teguh sekarang? Kira-kira dia kerja apa ya sekarang? Nggak pernah kelihatan di TV lagi. Nggak pernah update Facebook lagi sama istrinya. Masih sering ke luar negeri nggak dia ya?

Cuma perlu satu kasus. Cuma perlu satu kesalahan dari seorang Mario Teguh, dari orang “super” ke random someone yang sampai sekarang belum recovered dari masalah anaknya yang datang entah dari mana.

Baru-baru ini, Kaesang – anak bungsu presiden Jokowi – dilaporin orang Bekasi karena ngomong “ndeso” di YouTube.

Jujur aja, bukan cuma dia yang geram sama ulah bocah-bocah yang pawai sambil teriak “bunuh Ahok.” Banyak status FB/Twitter/IG, blogger, vlogger atau apalah namanya yang aktif di sosial media yang marah karena kebodohan orang yang men-inisiasi kegiatan itu.
« Lanjutkan membaca?

Aku Nggak Paham Modern Art

Malam ini di TLC ada acara World’s Best Restaurant.

Salah satunya menyajikan steak dengan garnish cipratan saus. Nama untuk mereka – contemporary modern art, menurutku nama yang cocok, steak dengan saus nyiprat.

Aku pernah beberapa kali membaca tentang modern art, dan aku masih belum puas. Aku masih belum dapat sensenya, kenapa orang bisa suka modern art.

Well, mungkin di rumahku nanti ada satu atau dua lukisan ala modern art, tapi bisa kupastikan itu ada di dalam rumahku hanya karena aku suka kombinasi warnanya. Aku nggak akan menghabiskan 90 juta dolar untuk lukisan 3 warna kayak ini.

Nama lukisan itu “Orange, Red, Yellow”, karya Mark Rothko yang terjual hampir 90 juta dolar di tahun 2012.
« Lanjutkan membaca?

Kamu Agamanya Apa?

Pertanyaan ini cuma pantas dipakai untuk KTP dan formulir resmi. Selain itu, pertanyaan ini konyol.

Masa depan nggak ditentukan dengan agamamu. Minimal selama kau masih hidup. Ini hanya urusan keteraturan, dan ritual untuk menyembah Tuhan masing-masing selama masih hidup.

Masa depan juga nggak peduli latar belakangmu seperti apa.

Masa depan nggak peduli kau lahir cacat atau bahkan nggak punya tangan dan kaki. Masa depan nggak peduli kau lahir di keluarga yang bagaimana, orangtuamu siapa, makananmu apa, dan agamamu apa.

Masa depan itu buta.

Masa depan cuma peduli dengan waktu. Semua orang dapat waktu yang sama, 24 jam sehari, kecuali kau kebetulan tinggal di luar angkasa, bisa jadi lebih lambat atau lebih singkat.
« Lanjutkan membaca?

Menikmati Dengan Sederhana

Einstein bilang, kalau kau belum bisa menjelaskannya dengan sederhana, artinya kau belum benar-benar memahami sesuatu.

Aku suka minum kopi.

Favoritku kopi kampung alias kopi tubruk – kopi dengan gilingan kasar yang diseduh dengan air panas dari dalam ceret – dan long black atau disebut Americano di beberapa tempat. Racikannya sederhana, dua cangkir espresso ditambah air panas atau es.

Aku punya beberapa alat seduh kopi yang dipakai cuma beberapa kali dan selebihnya disimpan jadi hiasan di lemari. Aku nggak punya mesin espresso karena terlalu mahal untuk dikoleksi.

Kadang aku juga baca hal-hal “berbau” kopi, tapi nggak sampai penasaran dan pengen coba, apalagi harus eksperimen sendiri.
« Lanjutkan membaca?

Make It Until You Made It

Okay, another thing I disapprove is on “fake it ’til you make it.”

Meniru memang cara paling gampang untuk memulai sesuatu. Kalau kau punya ide kreatif tapi masih bingung mau memulai dari mana, cari aja role model dengan ide serupa yang sudah terbukti sukses, kemudian tiru dan modifikasi sesuai gayamu.

Punya ide jualan kebab, tiru Kebab Baba Rafi. Mau sukses jualan jilbab, tiru gaya-gaya jilbab di koleksi Zoya. Mau punya startup, banyak contoh bahkan cara-cara mendirikannya di google. Mau sukses jadi artis, tiru orang-orang kurang kerjaan yang suka cari sensasi. Fake it ’til you make it terbukti membantu aspiring apapun untuk mengeksekusi ide-idenya kalau mereka nggak tahu harus mulai darimana.
« Lanjutkan membaca?