True Colors

True Colors

“Ky, menurutmu sifat asli orang itu muncul pas dia lagi di atas atau lagi di bawah?”

“Di atas atau di bawah sama aja, yang penting enak.”

“@#*$!!”

Oke, menurutku sifat asli orang itu muncul kalau zona nyamannya berubah. Aku nggak bilang berubah ke atas atau ke bawah, karena ada orang yang kelihatan aslinya pas dia lagi dapat masalah berat, nggak ada yang bisa membantu sementara situasi menuntut dia membuat solusi secepatnya.

Tapi ada juga yang sifat aslinya muncul pas lagi senang.

Intinya semua orang punya topeng, either topeng itu tebal atau agak semi-semi transparan. Karena menurutku, menunjukkan 100% sifat asli itu serba salah.
« Klik untuk terus membaca

Immortality is a Curse

Immortality is a Curse

Bagian terbaik dari “work from home” itu adalah nguping.

Nggak ada orang yang bakal curiga kalau kau duduk – sibuk dengan urusanmu sendiri – di depan laptop dan earphone nempel di kuping. Nggak ada juga yang curiga kalau earphone itu nggak mengeluarkan suara apa-apa. Kadang kalau lagi kerja, fungsi earphone itu bukan untuk menghalangi suara dari luar, tapi biar orang-orang rese nggak bolak-balik ngajak ngomong.

Kembali ke topik.

“Eh kalo lo dikasih superpower, lo mau milih apa?”

“Immortality lah.”

Woah, easy young man. Let me tell you something.

Immortality atau keabadian itu bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. Kecuali mereka memang nggak pernah nonton film-film dengan tema ini, kayaknya mereka belum memikirkan masalah apa yang muncul dengan keabadian.
« Klik untuk terus membaca

Honestly, This is Why I Keep Blogging

Honestly, This is Why I Keep Blogging

Aku nggak bisa menghasilkan uang dari blog (mungkin nggak dalam waktu dekat).

Salah satu kesalahan terbesarku membuat blog adalah berusaha untuk menjadikan blog sebagai sumber uang. Sebenarnya “menjual” tulisan di blog itu bukan omong kosong. Ribuan orang di seluruh dunia sudah berhasil hidup dari menulis. Di Indonesia ada Arief Muhammad (poconggg), Bena Kribo, Raditya Dika dan Stephany Josephine (theFreakyTeppy) misalnya. Mereka sukses dengan blognya masing-masing sebelum melanjutkan ke Youtube.

Tapi nggak semua orang bisa segigih mereka. Aku nggak mau bilang mereka beruntung, karena buatku keberuntungan itu nggak datang dari langit tapi dibuat sendiri.

Luck = Hard Work + Perfect Timing

Dan mengatakan mereka beruntung itu artinya merendahkan dan meniadakan perjuangan mereka untuk mikir mau nulis apa, mikir gimana cara menyampaikannya, dan gimana cara mempertahankan konsistensi menulis bertahun-tahun.
« Klik untuk terus membaca

Freelance?

Freelance?

Kemaren pas makan gaji buta aku iseng-iseng buka blog seorang kolega yang resign setelah melahirkan anak kedua. Sempat penasaran juga, gimana ya seorang insinyur – sebutan insinyur kuanggap lebih baik daripada teknisi – yang biasanya sibuk, sekarang harus jadi ibu rumah tangga yang baik.

Ngurusin anak nggak kalah sibuk daripada kerja di kantor. Malah seringkali kerjaan di rumah justru lebih melelahkan. Di kantor ada jam makan siang yang etikanya nggak boleh diganggu dengan kerjaan. Di rumah nggak ada istilah istirahat makan siang. Pas lagi makan pun kalo anaknya pup ya harus dibersihkan, kemudian lupa cuci tangan, kemudian lanjut makan lagi.
« Klik untuk terus membaca

Menolak Pindah

Menolak Pindah

Untungnya kita nggak hidup di negara yang menganggap orang dewasa yang masih tinggal di rumah orangtua itu aneh. Kawanku tinggal bersebelahan dengan mertuanya, dan kawan istriku bahkan tinggal serumah dengan orangtuanya.

Aku dan istri sama-sama anak sulung yang nggak “betah” tinggal berdekatan dengan keluarga, termasuk orangtua. Bukan karena kita nggak nyaman, lagipula siapa yang nggak suka kalau bisa setiap minggu ketemu orangtuanya? Macam orang-orang yang kerja di Jakarta dan orangtuanya di Bandung misalnya. Cuma dia nggak bisa merasakan sensasi pulang ke kampung yang jauh. Kalau urusan lama, Jakarta – Bandung pas lebaran pun bisa 5 jam, jadi nggak terlalu beda lah dengan orang yang kampungnya di Kabanjahe.
« Klik untuk terus membaca

Men VS Boys

Men VS Boys

  1. Men create their own style. Boys are sheep and follow the flock.
  2. Men want women. Boys need women.
  3. Men stand up for themselves. Boys will fall over in the wind.
  4. Men test new boundaries. Boys stay far from the edge.
  5. Men keep their body in shape. Boys use it as a trash can.
  6. Men are curious. Boys know it all.
  7. Men stand firm in adversity. Boys flinch at the slightest sound.
  8. Men care about the truth. Boys care about being right.
  9. Men support their claim with evidence. Boys support their claim with opinion.

« Klik untuk terus membaca
The Country of Superstition

The Country of Superstition

Di negara ini semuanya dihubungkan dengan “reaksi” Tuhan mulai dari daun gugur sampai gempa berpotensi tsunami. Yang lebih parah, di negara ini kepala daerahnya menyerahkan urusan banjir ke tangan Tuhan. Dan alih-alih menyelesaikan masalah penyempitan sungai dan sampah yang menumpuk, si kepala daerah itu justru menyuruh masyarakatnya berdoa supaya Tuhan membuat hujan reda dan menghentikan banjir.

Gempa besar dianggap sebagai cara Tuhan menunjukkan kemarahannya karena fenomena ini dan itu. Badai dianggap sebagai pertanda Tuhan akan melenyapkan orang-orang yang lebih mengutamakan logika dan ilmu pengetahuan, dan tsunami dibuat untuk melenyapkan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan.

Bumi ini sudah tua dan penghuninya sudah terlalu banyak.
« Klik untuk terus membaca

Almost Due – Our Pregnancy Short Story

Almost Due – Our Pregnancy Short Story

It all start with one thing. Dari jutaan calon generasi medioker (karena yang jawaranya sudah gugur di atas tisu dan lantai kamar mandi) cuma butuh satu yang paling cepat berenang – the Phelps of all sperm.

Kami menunggu tanda-tanda kehamilannya nggak terlalu lama, cuma 6 bulan setelah menikah. Biarpun sebenarnya di bulan kedua istri udah mulai merasa “nggak fit” dan ternyata ada hamil anggur, ini gagal karena kondisi yang nggak mengizinkan.

Flashback ke announcement date. Menurut pengakuannya, istriku sebenarnya punya rencana untuk bikin announcement kayak orang-orang. Dibuat dramatis, pakai kotak kado, pakai clues atau apalah, tapi ujung-ujungnya karena nggak sanggup nahan excitementnya sendiri, dia cuma ngasih test-pack dua garis tanpa pengantar.
« Klik untuk terus membaca

Mengucapkan atau Tidak Mengucapkan

Mengucapkan atau Tidak Mengucapkan

Kalau Shakespeare punya dilema To Be or Not To Be, orang-orang di negaraku juga punya dilema mengucapkan atau tidak mengucapkan selamat natal.

Well, buatku diucapkan atau tidak nggak pernah jadi soal. Karena apalah artinya ucapan selamat kalau yang mengucapkan tidak benar-benar serius dalam memberi selamat. Bahkan tanggal ulang tahunku pun sengaja nggak kutampilkan di media sosial. Aku nggak mau orang mengucapkan selamat hanya karena “diingatkan” oleh media sosial dan kebiasaan.

Oke, kembali ke urusan natal. Buatku mengucapkan selamat natal ini nggak perlu jadi perdebatan. Kalau diucapkan ya silakan, tidak diucapkan juga nggajmk mengurangi makna apapun untuk yang merayakannya.

Justru dengan memaksa dan mengomentari batasan orang untuk tidak mengucapkan, kita memaksa mereka untuk paling tidak meng-aknowledge hari spesial itu.
« Klik untuk terus membaca