Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Imaginary Coffee Break With : Stephen Hawking

Waktu sedang mengemudi atau commuting on train, aku sering berkhayal mengobrol dengan orang-orang yang kukenal atau malah yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Kadang aku berdiskusi dengan mereka berjam-jam, kadang berbantah-bantahan hanya beberapa menit kemudian salah satu mengalah dan diam.

Kali ini aku membuat satu kategori baru untuk tulisanku, diambil dari obrolan imajiner dengan orang-orang atau makhluk itu yang kadang membicarakan hal penting, tapi lebih sering hal-hal bodoh yang tidak berfaedah. Semua tulisan dalam topik ini adalah fiksi dan hanya terjadi di pikiranku, kecuali ku-state sebaliknya.

Tulisan ini bukan untuk kalian yang terlalu sensitif dengan hal-hal duniawi. Untuk yang bisa bersantai dengan bacaan fiksi, selamat menikmati.
« Klik untuk terus membaca

Takut

Takut

Banyak kepercayaan yang meyakini Adam tidak diciptakan sendirian. Ketika Adam dibentuk, kulit tangan Tuhan yang menyentuh debu tanah membuka gerbang gaib yang tidak akan pernah bisa tertutup kecuali bumi ciptaan-Nya dihancurkan.

Makhluk-makhluk tidak kasat mata pun menggunakan gerbang itu untuk berhubungan dengan dunia “tengah” yang dihuni oleh semua ciptaan Tuhan yang berwujud. Sementara makhluk itu adalah zat yang abstrak, mereka bisa membentuk dirinya sendiri menyerupai apapun yang mereka inginkan.

Adapun Lucifer dibuang dari surga memilih wujud ular berkaki delapan – sebelum akhirnya dikutuk berjalan selamanya dengan perutnya karena telah membawa manusia ke dalam dosa – diberikan kemuliaan untuk menjadi penguasa alam gaib, mengatur keluar dan masuknya makhluk-makhluk penghuni alam “bawah” itu.
« Klik untuk terus membaca

Bumi Segi Delapan

Bumi Segi Delapan

… tujuh, delapan, sembilan, se –

“Hot cappuccino?”

“Lama kali kau.”

“Maaf kak, barista kita yang satu lagi sakit.” Kata seorang pramusaji perempuan sambil menunduk dan meletakkan segelas kopi dan sepiring kentang goreng di mejaku. “Ini compliment dari dapur.”

Aku tidak mempedulikannya.

“Kau tau torrent air?” Tanyaku ke Duran.

Perempuan berkemeja hitam dengan celemek kulit kebesaran itu sudah pergi entah kemana.

“Apa urusannya sama torrent air?” Dia bertanya balik.

“Kebiasaan kau kalau ditanya malah nanya balik.” Jawabku. “Kotoran di torrent air itu mengendap di bawah dan nggak akan keluar kalau air di dalamnya masih penuh.”

“Terus?”

“Kalo tadi sampai hitungan sepuluh kopi ini belum muncul, siaplah dia kumaki.
« Klik untuk terus membaca