Kenapa Benci?

“Nggak tau kenapa, tapi aku benci sekali sama …”

Ini contoh pembohongan publik, karena selalu ada alasan untuk membenci. Bisa jadi lebih banyak daripada alasan ke Hoka-Hoka Bento. Ada satu tulisanku di Quora, yang menjawab kenapa kita bisa membenci seseorang tanpa alasan.

Mengatakan kebencian bisa muncul tanpa alasan itu sama aja dengan mengatakan asap bisa muncul tanpa ada api. Entah sadar atau nggak, alasan untuk membenci itu bisa direkayasa, mulai yang realistis karena merasa nggak puas, alasan yang agak mengambang, bahkan unreal.

We tried and failed (repeatedly)

Contoh paling dekat, tentang channel Youtube ku. Ada beberapa video di sana yang kalau diperhatikan tema dan gayanya berbeda-beda. Alasannya karena aku belum punya plot dan konsep yang jelas mau dibawa kemana channel itu nantinya. Sebelum kumulai, aku sudah punya role model, siapa yang akan kucontoh, dan beberapa alternatif seandainya gaya mereka kurang cocok untukku.

Tapi seandainya semuanya itu gagal, itu bisa jadi satu alasan untuk membenci mereka, karena menurutku ada sesuatu yang ganjil sampai-sampai mereka bisa dan aku tidak. Aku mungkin jadi nggak percaya dengan originalitas karya mereka dan lupa kalau di balik sukses itu mereka sudah melakukannya jauh lebih lama dan lebih banyak dari yang kukerjakan.

Cemburu

Ini turunan dari alasan yang pertama. Gagal mencontoh orang baik membuat kita cenderung melihat sisi negatif dari orang itu. Karena aku nggak bisa sukses dengan membuat channel Youtube bergaya Pewdiepie, aku membuat stigma negatif kalau karyanya tidak bermutu, tidak mendidik. Aku menghiraukan karyanya bisa menghibur puluhan juta orang hanya karena aku tidak bisa membuat karya serupa.

You feel you need to hate

Ini mungkin agak absurd tapi lumayan sering terjadi. Dan biasanya ini muncul kalau mood lagi nggak bagus.

Nggak ada angin, nggak ada hujan, aku bisa tiba-tiba benci dengan cara orang berjalan. Padahal seandainya mood ku lagi bagus, sebenarnya gaya jalannya itu biasa. Kita nggak kenal orangnya, nggak tau alasan mereka melakukan apapun itu, tapi DNA dan instinct kompetisi kita muncul untuk merendahkan mereka, at least dari sudut pandang personal.

Jadi, ya begitulah. Kita nggak perlu alasan karena kita bisa menciptakan alasan sendiri untuk membenci.

 

Let Them Read This

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *