Bumi Segi Delapan

Bumi Segi Delapan

… tujuh, delapan, sembilan, se –

“Hot cappuccino?”

“Lama kali kau.”

“Maaf kak, barista kita yang satu lagi sakit.” Kata seorang pramusaji perempuan sambil menunduk dan meletakkan segelas kopi dan sepiring kentang goreng di mejaku. “Ini compliment dari dapur.”

Aku tidak mempedulikannya.

“Kau tau torrent air?” Tanyaku ke Duran.

Perempuan berkemeja hitam dengan celemek kulit kebesaran itu sudah pergi entah kemana.

“Apa urusannya sama torrent air?” Dia bertanya balik.

“Kebiasaan kau kalau ditanya malah nanya balik.” Jawabku. “Kotoran di torrent air itu mengendap di bawah dan nggak akan keluar kalau air di dalamnya masih penuh.”

“Terus?”

“Kalo tadi sampai hitungan sepuluh kopi ini belum muncul, siaplah dia kumaki.
« Klik untuk terus membaca

Menolak Pindah

Menolak Pindah

Untungnya kita nggak hidup di negara yang menganggap orang dewasa yang masih tinggal di rumah orangtua itu aneh. Kawanku tinggal bersebelahan dengan mertuanya, dan kawan istriku bahkan tinggal serumah dengan orangtuanya.

Aku dan istri sama-sama anak sulung yang nggak “betah” tinggal berdekatan dengan keluarga, termasuk orangtua. Bukan karena kita nggak nyaman, lagipula siapa yang nggak suka kalau bisa setiap minggu ketemu orangtuanya? Macam orang-orang yang kerja di Jakarta dan orangtuanya di Bandung misalnya. Cuma dia nggak bisa merasakan sensasi pulang ke kampung yang jauh. Kalau urusan lama, Jakarta – Bandung pas lebaran pun bisa 5 jam, jadi nggak terlalu beda lah dengan orang yang kampungnya di Kabanjahe.
« Klik untuk terus membaca

Men VS Boys

Men VS Boys

  1. Men create their own style. Boys are sheep and follow the flock.
  2. Men want women. Boys need women.
  3. Men stand up for themselves. Boys will fall over in the wind.
  4. Men test new boundaries. Boys stay far from the edge.
  5. Men keep their body in shape. Boys use it as a trash can.
  6. Men are curious. Boys know it all.
  7. Men stand firm in adversity. Boys flinch at the slightest sound.
  8. Men care about the truth. Boys care about being right.
  9. Men support their claim with evidence. Boys support their claim with opinion.

« Klik untuk terus membaca
The Country of Superstition

The Country of Superstition

Di negara ini semuanya dihubungkan dengan “reaksi” Tuhan mulai dari daun gugur sampai gempa berpotensi tsunami. Yang lebih parah, di negara ini kepala daerahnya menyerahkan urusan banjir ke tangan Tuhan. Dan alih-alih menyelesaikan masalah penyempitan sungai dan sampah yang menumpuk, si kepala daerah itu justru menyuruh masyarakatnya berdoa supaya Tuhan membuat hujan reda dan menghentikan banjir.

Gempa besar dianggap sebagai cara Tuhan menunjukkan kemarahannya karena fenomena ini dan itu. Badai dianggap sebagai pertanda Tuhan akan melenyapkan orang-orang yang lebih mengutamakan logika dan ilmu pengetahuan, dan tsunami dibuat untuk melenyapkan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan.

Bumi ini sudah tua dan penghuninya sudah terlalu banyak.
« Klik untuk terus membaca

Almost Due – Our Pregnancy Short Story

Almost Due – Our Pregnancy Short Story

It all start with one thing. Dari jutaan calon generasi medioker (karena yang jawaranya sudah gugur di atas tisu dan lantai kamar mandi) cuma butuh satu yang paling cepat berenang – the Phelps of all sperm.

Kami menunggu tanda-tanda kehamilannya nggak terlalu lama, cuma 6 bulan setelah menikah. Biarpun sebenarnya di bulan kedua istri udah mulai merasa “nggak fit” dan ternyata ada hamil anggur, ini gagal karena kondisi yang nggak mengizinkan.

Flashback ke announcement date. Menurut pengakuannya, istriku sebenarnya punya rencana untuk bikin announcement kayak orang-orang. Dibuat dramatis, pakai kotak kado, pakai clues atau apalah, tapi ujung-ujungnya karena nggak sanggup nahan excitementnya sendiri, dia cuma ngasih test-pack dua garis tanpa pengantar.
« Klik untuk terus membaca

Mengucapkan atau Tidak Mengucapkan

Mengucapkan atau Tidak Mengucapkan

Kalau Shakespeare punya dilema To Be or Not To Be, orang-orang di negaraku juga punya dilema mengucapkan atau tidak mengucapkan selamat natal.

Well, buatku diucapkan atau tidak nggak pernah jadi soal. Karena apalah artinya ucapan selamat kalau yang mengucapkan tidak benar-benar serius dalam memberi selamat. Bahkan tanggal ulang tahunku pun sengaja nggak kutampilkan di media sosial. Aku nggak mau orang mengucapkan selamat hanya karena “diingatkan” oleh media sosial dan kebiasaan.

Oke, kembali ke urusan natal. Buatku mengucapkan selamat natal ini nggak perlu jadi perdebatan. Kalau diucapkan ya silakan, tidak diucapkan juga nggajmk mengurangi makna apapun untuk yang merayakannya.

Justru dengan memaksa dan mengomentari batasan orang untuk tidak mengucapkan, kita memaksa mereka untuk paling tidak meng-aknowledge hari spesial itu.
« Klik untuk terus membaca

Being Real

Being Real

Filler muka, tambalan silikon di dada, ekstension rambut dari bahan yang entah apa namanya, warna muka yang nggak sama dengan leher, beras plastik, garam dari pecahan kaca, perempuan jadi-jadian yang kalau pagi jadi kuli – malam jadi esmeralda, sampai mainan robot seks yang dibuat lebih cantik dari perempuan asli.

Bahkan orang yang harusnya udah mati pun bisa dihidupkan pakai jantung bionik macam si Rothschild – biarpun akhirnya mati juga.

Nothing is real anymore.

“Being real, sucks!” Kata mereka.

“Aslinya gue nggak menjual,” kata si artis A yang kerjanya bikin kontroversi biar tetap eksis.

Motivator kondang rupanya punya masalah rumah tangga yang berat.
« Klik untuk terus membaca

Priority Done Wrong

Priority Done Wrong

Sudah empat bulan aku jadi anker – anak kereta – yang pergi pagi pulang malam, himpit-himpitan di kereta persis lagunya /rif. Bedanya lagu mereka itu tentang bis kota.

Kepo alias nosy alias over-curious mau nggak mau jadi kebiasaan. Namanya di tempat penuh sesak begitu, nggak ada informasi audio visual yang bisa dirahasiakan, termasuk kehidupan dan strata sosial seseorang dilihat dari cara bicara, gaya berpakaian dan gadget yang dipegangnya.

Di stasiun atau di dalam kereta, segala jenis gadget bisa kelihatan. Dari yang paling baru sampai yang menurutku udah nggak ada satupun manusia yang punya barang seperti itu. Aku pernah liat orang pakai handphone sebesar remote TV yang di kepalanya ada antena mirip sirip hiu.
« Klik untuk terus membaca

Rumah Baru, Ma Nu Life

Rumah Baru, Ma Nu Life

Selamat pagi, selamat hari Selasa, selamat tanggal 18 Juli 2017.

Asuransi Manulife nggak ada hubungannya sama sekali dengan tulisan ini, biarpun memang kalau rumah modal kredit wajib pakai asuransi. Aku cuma baru ngeh kalau manulife itu pengucapannya mirip My New Life.

Oke, minggu lalu akhirnya kami pindah rumah. Dan seperti dugaanku, banyak yang protes kenapa kami milih Depok. Dan karena itu bukan urusan mereka, kami pakai alasan-alasan diplomatis biar nggak panjang.

Rumah di Depok, kerja di Jakarta (Sudirman) itu nggak gampang. Akses transportasinya terbatas, apalagi kondisi istri lagi hamil muda. Contohnya kemaren, udah sampai stasiun kereta tiba-tiba dia mual dan karena terlalu lemas, terpaksa cuti sakit.
« Klik untuk terus membaca