Priority Done Wrong

Priority Done Wrong

Sudah empat bulan aku jadi anker – anak kereta – yang pergi pagi pulang malam, himpit-himpitan di kereta persis lagunya /rif. Bedanya lagu mereka itu tentang bis kota.

Kepo alias nosy alias over-curious mau nggak mau jadi kebiasaan. Namanya di tempat penuh sesak begitu, nggak ada informasi audio visual yang bisa dirahasiakan, termasuk kehidupan dan strata sosial seseorang dilihat dari cara bicara, gaya berpakaian dan gadget yang dipegangnya.

Di stasiun atau di dalam kereta, segala jenis gadget bisa kelihatan. Dari yang paling baru sampai yang menurutku udah nggak ada satupun manusia yang punya barang seperti itu. Aku pernah liat orang pakai handphone sebesar remote TV yang di kepalanya ada antena mirip sirip hiu.
« Klik untuk terus membaca

Rumah Baru, Ma Nu Life

Rumah Baru, Ma Nu Life

Selamat pagi, selamat hari Selasa, selamat tanggal 18 Juli 2017.

Asuransi Manulife nggak ada hubungannya sama sekali dengan tulisan ini, biarpun memang kalau rumah modal kredit wajib pakai asuransi. Aku cuma baru ngeh kalau manulife itu pengucapannya mirip My New Life.

Oke, minggu lalu akhirnya kami pindah rumah. Dan seperti dugaanku, banyak yang protes kenapa kami milih Depok. Dan karena itu bukan urusan mereka, kami pakai alasan-alasan diplomatis biar nggak panjang.

Rumah di Depok, kerja di Jakarta (Sudirman) itu nggak gampang. Akses transportasinya terbatas, apalagi kondisi istri lagi hamil muda. Contohnya kemaren, udah sampai stasiun kereta tiba-tiba dia mual dan karena terlalu lemas, terpaksa cuti sakit.
« Klik untuk terus membaca

Life Wasted

Life Wasted

Kalau tiba-tiba ada orang asing muncul di depanku, dan ngomong, “hidupmu sia-sia,” ada fifty-fifty chance orang itu gila, atau orang itu benar.

Jujur, beberapa tahun belakangan ini aku merasa nggak bisa menghasilkan apa-apa. Ya, tanpa mengurangi rasa syukur, aku bisa lanjutin kuliah dengan biaya sendiri, nikah dan punya rumah hasil patungan sama istri, dan masih bisa sedikit membantu orangtua dan adik-adik urusan dana ini dan itu.

Tapi untuk urusan karir, aku merasa jalan di tempat. Well, ada beberapa bisnis yang pernah kucoba dan gagal, tapi aku nggak merasa ada pengalaman berharga yang bisa kupelajari dari kejadian itu, justru aku makin nggak berani mencoba hal baru karena takut gagal.
« Klik untuk terus membaca

Pindahan : Belajar Art of Minimalism

Pindahan : Belajar Art of Minimalism

Setelah hampir 8 tahun tinggal di Jakarta, aku dan istri sepakat untuk pindah ke “pinggir”. Dengan modal nekat – tapi nggak boleh minjam sama saudara – kami coba cari rumah di daerah yang harga dan ukurannya masih manusiawi.

Lumayan lama juga sampai akhirnya kami ketemu rumah yang cocok di daerah Depok.

“Kenapa Depok? Kenapa nggak Tangsel aja?” Kata kawan-kawan yang kebetulan rumahnya di Tangerang.

Alasannya karena dengan harga yang sama, kami bisa dapat rumah yang lebih besar di Depok. Dan kondisi alam di depok masih lebih nyaman dibandingkan Tangsel yang makin hari makin mirip Jakarta. Mungkin namanya bisa diganti jadi Jakarta 2.0, dengan semua bangunan apartment, perumahan elit, kompleks kantor dan mall-mall besarnya.
« Klik untuk terus membaca

Kamu Agamanya Apa?

Kamu Agamanya Apa?

Pertanyaan ini cuma pantas dipakai untuk KTP dan formulir resmi. Selain itu, pertanyaan ini konyol.

Masa depan nggak ditentukan dengan agamamu. Minimal selama kau masih hidup. Ini hanya urusan keteraturan, dan ritual untuk menyembah Tuhan masing-masing selama masih hidup.

Masa depan juga nggak peduli latar belakangmu seperti apa.

Masa depan nggak peduli kau lahir cacat atau bahkan nggak punya tangan dan kaki. Masa depan nggak peduli kau lahir di keluarga yang bagaimana, orangtuamu siapa, makananmu apa, dan agamamu apa.

Masa depan itu buta.

Masa depan cuma peduli dengan waktu. Semua orang dapat waktu yang sama, 24 jam sehari, kecuali kau kebetulan tinggal di luar angkasa, bisa jadi lebih lambat atau lebih singkat.
« Klik untuk terus membaca

Menikmati Dengan Sederhana

Menikmati Dengan Sederhana

Einstein bilang, kalau kau belum bisa menjelaskannya dengan sederhana, artinya kau belum benar-benar memahami sesuatu.

Aku suka minum kopi.

Favoritku kopi kampung alias kopi tubruk – kopi dengan gilingan kasar yang diseduh dengan air panas dari dalam ceret – dan long black atau disebut Americano di beberapa tempat. Racikannya sederhana, dua cangkir espresso ditambah air panas atau es.

Aku punya beberapa alat seduh kopi yang dipakai cuma beberapa kali dan selebihnya disimpan jadi hiasan di lemari. Aku nggak punya mesin espresso karena terlalu mahal untuk dikoleksi.

Kadang aku juga baca hal-hal “berbau” kopi, tapi nggak sampai penasaran dan pengen coba, apalagi harus eksperimen sendiri.
« Klik untuk terus membaca