Improvise, Adapt, Nothing Works, Revert

Improvise, Adapt, Nothing Works, Revert

Nggak semua orang suka melakukan hal baru. Dan dari orang-orang yang suka melakukan hal baru, nggak semua orang bisa konsisten dan punya komitmen untuk seeing through sampai ada hasilnya. Dan orang itu adalah gue.

Di 2019 nggak banyak hal signifikan yang terjadi. Ada sedikit, dan salah satunya adalah gue akhirnya berani pindah dari kantor dan pekerjaan lama, ke pekerjaan dan kantor baru yang 180 derajat berbeda. Kerjaan baru, teman baru, culture kerja baru, visi dan target pekerjaan yang baru juga. Kenapa pindah? Karena meninggalkan zona nyaman? Menurut gue bukan.

Honestly speaking, gue nggak percaya dengan istilah meninggalkan zona nyaman. Karena menurut gue cuma orang yang kurang waras yang mau meninggalkan zona nyaman. Seseorang memutuskan untuk pindah atau memulai hal baru, bukan karena mau meninggalkan zona nyaman, justru sebaliknya. Ketika satu pekerjaan itu mulai nggak nyaman, entah karena alasan apapun – beban kerja, rekan kerja, benefit finansial, apapun – dia kemudian memutuskan untuk meninggalkan itu dan memulai sesuatu yang baru. Apa ada jaminan di tempat yang baru akan lebih nyaman? Nggak. Apa ada kutukan di tempat baru justru akan lebih tidak nyaman? Nggak juga. Jadi melakukan hal baru itu sebenarnya perjudian yang hasilnya berimbang.

Selain itu, di 2019 gue coba untuk membuat podcast dan set target di angka 20 episode mulai dari Juli sampai Desember 2019. Faktanya, gue cuma berhasil membuat 9 episode. Menurut gue justru ini salah satu pencapaian gue yang cukup baik karena gue sendiri awalnya nggak yakin bisa membuat lebih dari 3 episode. Dari 9 episode itu satu hal yang akhirnya gue sadar adalah man behind the gun lebih penting daripada “senjatanya”. Di awal gue mencoba untuk bikin podcast gue udah beli 2 jenis recorder. Ada yang entry level ada yang semi profesional. Dari 2 jenis recorder itu, yang paling sering gue pake justru handphone, karena lebih ringkas dan gak bulky.

Di 2019 gue sebenarnya mencoba beberapa hal baru yang mau dibisniskan. Sesuatu yang di luar kemampuan dan pengetahun gue, sesuatu yang sama sekali gue gak paham dan gue paksain untuk ngerti. Akhirnya, zonk juga dan gak jalan sama sekali. Itulah alasannya kenapa di tahun ini – 2020 – gue mau revert dan kembali melakukan hal-hal lama yang gue pernah lakukan di tahun-tahun sebelumnya, dengan sedikit lebih baik.

Kadang melakukan sesuatu dengan perubahan kecil-kecil justru lebih baik daripada melakukan hal yang benar-benar baru.

Entah apa hubungan dari masing-masing paragraf itu, yang penting gue udah bisa menulis lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.