Simple Ethic That Makes You Human

Kesadaran, kepekaan dan etika adalah sebagian kecil divine’s characteristic yang membuat manusia itu berbeda dengan binatang. Sementara orang-orang yang mengaku manusia tapi nggak punya karakter-karakter itu sering disebut barbar atau barbaric. Kita nggak perlu menganalogikan mereka dengan binatang karena barbar itu sebenarnya 11 12 sama binatang.

So let’s talk about it for a moment.

Sudah hampir 5 bulan aku jadi anak kereta dengan segala suka dukanya. Sukanya bisa kepoin orang, dukanya nggak  usah dijelaskan karena satu-satunya cara untuk memahami dukanya adalah dengan menjalaninya. Try it, you’ll see.

Jadi selama ini banyak penampakan-penampakan makhluk barbar di kereta. Nggak pandang jenis kelamin, nggak pandang agama, nggak pandang latar belakang. Barbar itu bibitnya menyebar, tumbuh dan berkembang mulai level sosial paling rendah sampai paling tinggi. Ambil aja contohnya seorang Ibu yang dugaanku dia itu pedagang di Tanahabang – dia setiap hari turun disana dan dari hasil kepoisasi, obrolannya selalu tentang garment, so may be yes, may be no.

Si ibu ini setiap hari berangkatnya selalu bareng dengan aku dan istri. Termasuk hari ini waktu kami terlambat sampai stasiun karena hujan, dia pun ada di kursi prioritas, duduk santai bermain handphone sementara di depannya ada kakek tua yang jelas-jelas lebih membutuhkan tempat itu daripada dia. But she doesn’t even care.

Ibu-ibu barbar ini nggak berhenti disitu. 10 detik sebelum kereta berhenti dia pasti sudah menyelip entah dari mana dan seketika berdiri di depan garis kuning. Di depan, bukan di belakang. Dan sepersekian detik setelah pintu kereta terbuka penuh dia lanjut menyelip kiri kanan kiri kanan menuju tempat duduk prioritas langganan dia yang biasanya sudah disediakan oleh temannya (laki-laki berumur) yang naik entah dari stasiun mana, yang sama barbarnya dengan dia.

What the fuck does he think he’s doing to sit on a priority seat, tagging it for his friend?

Ibu-ibu gila ini nggak pernah peduli ada orang yang mau keluar dari kereta atau nggak. She just shoot her way like a damn rat. Dan kemarin kejadian lagi orang-orang di dalam kereta yang melihat kelakuannya itu akhirnya bersorak menghina. Ibu itu? Mana peduli, dia sudah duduk santai di sudut kereta dengan handphone di tangan dan sekawanan makhluk laki-laki yang sama barbarnya menemani dia mengobrol santai sepanjang perjalanan.

Stupidity doesn’t deserve priority seat. It deserve an institute or a slap in the face.

Ini cuma satu dari sekian banyak makhluk barbar yang pernah kujumpai. Masih banyak model-model lain mulai dari gadis sosialita dengan dandanan mentereng yang dengan santainya mengobrol cekikikan di telepon sementara orang di sekitarnya berusaha untuk tidur. Atau bapak-bapak berpenampilan jawara yang nggak mau memberikan tempat untuk orang yang benar-benar prioritas. Bayangkan kalau seisi kereta menampari si jawara itu, can he survive?

We are human, act like one.

Advertisements

Day Job vs Freelance

I have a day job. Freelance is not for me. I have tried but failed miserably. I can’t even control how much job is too much to take and then finished nothing at all.

Kemaren baru ngobrol sama adek ipar yang entah kesambet jin apa, tiba-tiba memutuskan resign padahal belum punya kerjaan baru. Ini salah satu dosa terbesar setelah membunuh dan berzinah, karena jobless dan moneyless di Jakarta itu sama aja bunuh diri. Beruntung dia masih punya saudara (me and my wife) yang jadi temporary safety net, dan beruntung juga anak kami (yes, we are pregnant) belum lahir karena dia akan jadi prioritas kesekian kalau keponakannya sudah menghirup oksigen.

Back to topic, freelance is not for weak soul. Banyak orang yang hidupnya carut marut gara-gara freelance, tapi nggak sedikit juga yang kaya raya sampai tiap dua tahun sekali ganti mobil – bukan uber.

Freelance itu untuk orang-orang “spesial” yang punya idealisme kuat untuk membangun bisnisnya sendiri. Sendiri bukan berarti sendirian, karena biasanya freelancer juga punya komunitas untuk mengerjakan satu proyek rame-rame.

Freelance ini khusus untuk orang-orang yang nggak peduli sama financial security. Sementara karyawan sangat peduli dengan financial security karena ini menentukan berapa banyak utang yang bisa kami ambil dan berapa besar kemampuan kami untuk mencicil utang itu. Inilah nanti satu faktor pertimbangan kalau mau pindah ke perusahaan baru dan ditanya “mau gaji berapa?”

Dulu sekali, orang-orang berpikir kalau freelancer itu jarang keluar rumah, nggak punya koneksi, kerja dengan celana kolor dan singlet (most of them still). Sekarang berbeda, banyak co-working space yang dibangun untuk para freelancer dan pebisnis pemula yang belum punya kantor. Disini mereka bisa menjalin relasi dengan siapa saja yang ada di co-working space itu. Bedanya dengan karyawan kantor, untuk menjalin relasi seperti ini kami nggak perlu menyewa gedung sendiri, kami bisa memakai fasilitas kantor dan itu gratis tanpa potong gaji.

Dua-duanya menarik dan punya nilai masing-masing. Pilihannya ada di masing-masing penggiat. Dan untuk adek iparku itu, aku sebenarnya punya ide untuk mengarahkan dia jadi freelancer karena menurutku pekerjaan kantoran kurang cocok untuk orang yang “kurang bisa diatur” semacam dia. Tapi ya, kakaknya masih lebih condong ke mainstream job.

Priority Done Wrong

Sudah empat bulan aku jadi anker – anak kereta – yang pergi pagi pulang malam, himpit-himpitan di kereta persis lagunya /rif. Bedanya lagu mereka itu tentang bis kota.

Kepo alias nosy alias over-curious mau nggak mau jadi kebiasaan. Namanya di tempat penuh sesak begitu, nggak ada informasi audio visual yang bisa dirahasiakan, termasuk kehidupan dan strata sosial seseorang dilihat dari cara bicara, gaya berpakaian dan gadget yang dipegangnya.

Di stasiun atau di dalam kereta, segala jenis gadget bisa kelihatan. Dari yang paling baru sampai yang menurutku udah nggak ada satupun manusia yang punya barang seperti itu. Aku pernah liat orang pakai handphone sebesar remote TV yang di kepalanya ada antena mirip sirip hiu. Google pixel pun ada apalagi cuma iPhone yang belakangan ini banyak di-refurbished. Orang macam aku yang bayar 10 juta waktu pertama keluar pasti sakit hati ngeliat mereka pakai iPhone yang mirip dengan harga cuma 2 juta.

Anyway, kembali ke urusan prioritas.

Sewajarnya, orang-orang  yang punya gadget mantap itu ekonominya pun berkecukupan. Mereka bisa membayar cicilan kartu kredit 0% 1 juta per bulan untuk beli iPhone 7 baru artinya limit kartu kredit mereka cukup besar. Limit kartu kredit cukup besar artinya gaji mereka pun dianggap cukup besar oleh bank. Tapi nyatanya, banyak kulihat orang-orang ber gadget mantap ini penampilannya nggak sejalan dengan gengsinya.

Di tangannya ada handphone canggih belasan juta, sementara di kakinya ada sepatu yang kulitnya udah meletek di mana-mana. Pernah ada yang sepatunya sampai menganga, tapi aku berpikir positif aja mungkin itu baru sobek hari ini jadi belum sempat beli. Tapi kalau misalnya di tangannya ada iPhone 7 yang belum ada barang refurbished, tapi tali ranselnya robek dan resletingnya dikaitkan pakai peniti?

Come on, it takes time for that bag pack to be torn out like that. Seriously?

Kalau gengsi dan gaya udah mengatasi semuanya, wajar aja banyak orang-orang dengan smartphone seharga mobil punya otak yang kalah smart.

Being Real

Filler muka, tambalan silikon di dada, ekstension rambut dari bahan yang entah apa namanya, warna muka yang nggak sama dengan leher, beras plastik, garam dari pecahan kaca, perempuan jadi-jadian yang kalau pagi jadi kuli – malam jadi esmeralda, sampai mainan robot seks yang dibuat lebih cantik dari perempuan asli.

Bahkan orang yang harusnya udah mati pun bisa dihidupkan pakai jantung bionik macam si Rothschild – biarpun akhirnya mati juga.

Nothing is real anymore.

“Being real, sucks!” Kata mereka.

“Aslinya gue nggak menjual,” kata si artis A yang kerjanya bikin kontroversi biar tetap eksis.

Motivator kondang rupanya punya masalah rumah tangga yang berat. Chester Bennington dan Robin Williams yang selalu kelihatan bahagia berakhir bunuh diri. Publik figure yang dulunya hits sekarang jadi pecandu narkoba dan bolak balik masuk rehab. Orang-orang mencari popularitas dengan membuat persona baru yang bukan diri mereka.

“Aku mau kaya dia,” ucapan yang bisa membuat si-dia itu berasa teleportasi ke surga karena sudah jadi panutan, nggak peduli kehidupan aslinya sekasar parutan kelapa yang gigi-giginya udah rompal karena dimakan usia.

Being real is sucks karena dengan being real dia nggak bisa menginspirasi orang. Terus kenapa sih harus selalu jadi inspirasi buat orang lain? Kenapa nggak bisa jadi orang biasa aja? Kenapa harus selalu jadi seleb – entah di twitter, instagram, facebook, bigo live, snapchat, atau apalah.

Nggak semua orang dilahirkan untuk jadi sumber inspirasi. Kompas aja cuma inspirasi Indonesia, bukan inspirasi dunia. Miss universe aja terbatas untuk earth dan nggak ada peserta dari planet lain di seputaran bumi. Manusia itu terbatas, jadi ya nikmati aja keterbatasan itu dengan cara sendiri, siapa tau nanti caramu itu justru jadi inspirasi untuk orang lain tanpa kau sadari.

Komentar pun sekarang udah nggak konstruktif lagi. Padahal waktu sekolah, tiap kali ada tugas ilmiah atau disuruh presentasi pasti selalu diakhiri dengan “kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.”

Instead of membangun, sekarang komentar lebih ke nyinyir nggak jelas. Mengomentari sesuatu yang nggak ada hubungannya sama subjek yang lagi di (ehem) pamerkan di sosial media. Ada orang yang pamer lekuk badannya setelah sukses nge-gym bertahun-tahun, yang dikomentari malah kenapa mbaknya nggak berjilbab. Ada orang yang pamer jalan-jalan di sosial media – because they can – malah dikomentari disuruh sedekahnya diperbanyak.

We hate because we don’t understand.

Tapi gimana caranya kita bisa ngerti, kalau yang ditunjukkan pun sesuatu yang nggak real?